OJK: 29 Rencana Penawaran Umum Masuk Antrean senilai Rp26,47 T
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan terdapat 29 rencana penawaran umum yang masih antre senilai Rp26,47 triliun, sementara total penawaran umum pada Januari-September 2026 mencapai Rp186,03 triliun. Pernyataan itu disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, pada Senin, 5 Oktober 2026.
Rangkuman penawaran umum Jan–Sep 2026
OJK mencatat penghimpunan dana melalui pasar modal relatif kuat pada periode tersebut. Total nilai penawaran umum tercatat Rp186,03 triliun, mendekati target tahunan OJK sebesar Rp200 triliun.
Rinciannya meliputi berbagai jenis penawaran yang mencerminkan aktivitas korporasi dalam mencari pembiayaan.
- Tujuh penawaran umum saham perdana (IPO).
- 18 penawaran umum terbatas (PUT).
- 11 penawaran umum efek bersifat utang dan/atau sukuk (EBUS).
- 123 penawaran umum berkelanjutan EBUS.
29 Rencana penawaran dalam pipeline
Selain realisasi, OJK mencatat ada 29 rencana penawaran yang masih dalam antrean atau pipeline, dengan perkiraan nilai total Rp26,47 triliun. Rencana ini menjadi potensi tambahan bagi penghimpunan dana hingga akhir tahun.
"Penghimpunan dana korporasi tetap terjaga dan kuat dengan nilai penawaran umum Rp186,03 triliun,"
Securities Crowdfunding ikut menyumbang
OJK juga melaporkan perkembangan di mekanisme alternatif pembiayaan. Penghimpunan melalui Securities Crowdfunding (SCF) sepanjang Januari-September 2026 tercatat Rp2,06 triliun.
Pada bulan terakhir tercatat tambahan 15 efek baru dan sembilan penerbit baru, dengan dana yang dihimpun sebesar Rp22,92 miliar.
Penurunan minat IPO dan faktor penyebab
Hasan menyoroti turunnya jumlah perusahaan yang memilih melakukan IPO. Hingga akhir September 2026 hanya tujuh perusahaan yang melantai, dengan total dana sekitar Rp2,16 triliun.
"Misalnya dinamika pasar, minat investor, serta pertimbangan emiten dalam menentukan momentum dan pembiayaannya,"
Menurut OJK, kondisi pasar global dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik turut memengaruhi keputusan timing perusahaan untuk melakukan penawaran saham.
"Dinamika kondisi pasar global, termasuk meningkatnya ketidakpastian geopolitik, memengaruhi timing perusahaan untuk melaksanakan IPO,"
Impak dan prospek
OJK menyatakan akan terus memantau perkembangan pasar dan mendorong pemanfaatan pasar modal sebagai sumber pembiayaan. Pengawasan juga difokuskan pada kualitas keterbukaan informasi dan perlindungan investor.
"Tentunya dengan tetap mengedepankan kualitas keterbukaan informasi dan pelindungan investor,"
Jika kondisi pasar membaik dan sentiment investor kembali positif, pipeline senilai Rp26,47 triliun berpotensi terkonversi menjadi penawaran publik sebelum akhir tahun.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
BPK Rangkum 762 Laporan Pemeriksaan pada IHPS I 2026
BPK merangkum 762 LHP dalam IHPS I 2026; mayoritas mendapat opini WTP, Isma Yatun dorong tindak lanjut rekom...
Australia-Indonesia Perkuat Riset Material Berkelanjutan dan Manufaktur
Forum 24–25 Sept 2026 di Jakarta satukan peneliti Australia-Indonesia untuk kembangkan material daur ulang d...
Harga Emas Antam Turun Jadi Rp2.570.000 per Gram
Emas Antam turun Rp10.000 per gram pada 6 Oktober 2026, harga 1 gram kini Rp2.570.000; simak daftar harga pe...
Commuter Line Layani 271,48 Juta Penumpang hingga Triwulan III 2026
KAI Commuter melayani 271,48 juta pengguna Commuter Line Jabodetabek hingga triwulan III 2026, naik 6,25% da...
KAI Selesaikan Perawatan 7 Trainset KRL Bogor Line Lebih Cepat
KAI menyelesaikan perawatan tujuh trainset KRL iE305 lebih awal; seluruh rangkaian kembali melayani Bogor Li...
KAI Genjot Integrasi Stasiun Karet-Sudirman Baru hingga 2026
KAI melanjutkan konstruksi integrasi Stasiun Karet dan Sudirman Baru hingga 31 Desember 2026, sambil memasan...