Minat Estetika Dorong Investasi Alat Premium di Bali
Pelaku usaha kecantikan mulai menyalurkan investasi alat medis premium di Bali seiring meningkatnya permintaan perawatan estetika dari lokal dan wisatawan. Strategi itu dilakukan setelah riset pasar yang menunjukkan pertumbuhan segmen skin tightening, sehingga perusahaan membawa teknologi baru, termasuk perangkat Xerf bernilai besar, ke Pulau Dewata.
Tren pasar dan alasan investasi
Vice President idsMED Andy Rahardja menyatakan tren perawatan estetika di Indonesia terus tumbuh. Perusahaan melakukan riset sebelum memasukkan teknologi baru ke pasar.
"Hasil riset kami menunjukkan pasar estetika tumbuh sekitar 15 persen per tahun. Pertumbuhan terbesar terjadi pada segmen skin tightening. Itu sebabnya kami melihat investasi di teknologi ini memiliki prospek yang baik," ujarnya di Denpasar.
Menurut Andy, Bali menawarkan pasar yang unik. Selain pasien domestik, pulau ini menarik wisatawan medis dan pengunjung yang mencari layanan kebugaran dan estetika.
Besaran investasi dan pertimbangan klinik
Salah satu alasan pelaku usaha berani berinvestasi adalah daya beli pasar Bali dan tingginya standar pasien internasional. Perangkat Xerf yang dibawa ke Bali disebut memiliki nilai investasi mendekati Rp2 miliar per unit.
"Bali memiliki daya beli yang baik. Selain itu, pasien asing juga menjadi pasar yang potensial," ucap Andy.
Perusahaan menilai kebutuhan pasien tidak hanya hasil estetika, tetapi juga kenyamanan, waktu pemulihan singkat, dan dukungan bukti klinis.
"Mereka memiliki standar yang tinggi. Tidak hanya menginginkan hasil perawatan yang baik, tetapi juga mengutamakan kenyamanan, minim masa pemulihan, dan teknologi yang didukung bukti klinis," katanya.
Penerimaan pasar dan hasil awal
Permintaan untuk teknologi estetika juga terlihat di kota lain. Head of Aesthetics idsMED Indonesia, Marisa Theresia, menyebut salah satu klinik pengguna pertama Xerf di Surabaya telah mencatat respons pasar positif.
"Capaian itu menunjukkan bahwa permintaan terhadap perawatan skin tightening memang sedang tumbuh," ujarnya.
Angka itu tercermin dari lebih dari 500 tindakan yang dilayani dalam tiga bulan operasi Klinik di Surabaya, sebagai contoh adopsi cepat teknologi baru.
Kebutuhan pasien dan tren layanan
Head Doctor Elea Clinic Bali, dr. Jesslyn Amelia, Sp.DVE, menyoroti preferensi pasien masa kini. Tren anti-aging mengarah ke prosedur yang lebih nyaman dan minim efek samping.
"Mereka mencari perawatan tanpa jarum, minim downtime, nyaman, dan tidak menyebabkan hilangnya lemak wajah. Itu yang sekarang banyak dicari pasien," ujarnya.
Perkembangan teknologi dan pertumbuhan pasar ini mendorong harapan agar layanan estetika berkualitas dapat diakses di dalam negeri, tanpa harus berobat ke Korea atau Thailand. Jika layanan terus berkembang, Bali berpeluang menjadi pusat medical tourism dan wellness tourism yang mampu melayani permintaan domestik dan internasional.
Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.
Berita Terkait
Sentralisasi Pengadaan Alkes Hemat Rp10,25 Triliun, Kemenkes Ungkap
Kemenkes menyebut sentralisasi pengadaan alkes memangkas pengeluaran Rp10,25 triliun atau 52% dari estimasi...
Menkes: Bangun Laboratorium Kesehatan di Seluruh Kabupaten/Kota
Pemerintah akan membangun dan merenovasi laboratorium kesehatan di seluruh kabupaten/kota untuk memperkuat s...
Puskesmas Jemput Bola CKG: 700 Siswa Diperiksa di Bekasi
Puskesmas Duren Jaya jemput bola Cek Kesehatan Gratis di SD Santa Maria Monica, Bekasi; 700 siswa diperiksa,...
CKG Jaktim Temukan Anemia dan Hipertensi pada Pelajar
CKG Jakarta Timur menemukan banyak pelajar mengalami tekanan darah tinggi dan anemia pada periode Januari–Ju...
Pemanasan dan Pendinginan: Kunci Olahraga Lebih Aman
Pemanasan dan pendinginan membantu tubuh beradaptasi sebelum dan setelah olahraga, menurunkan risiko cedera...
Jangan Abaikan Nyeri Sendi Berulang, Bisa Jadi Autoimun
Nyeri sendi berulang bisa jadi tanda autoimun seperti RA; waspadai pembengkakan, kekakuan pagi hari, dan seg...