Ekonomi

Kemenperin Integrasikan IKM Singkong ke Rantai Pasok Industri

Bagikan:
Pelaku IKM olahan singkong dan pejabat Kemenperin saat kegiatan pendampingan di Lampung Timur

Kementerian Perindustrian mulai mengintegrasikan pelaku IKM olahan singkong ke rantai pasok industri besar pada 16 Juli 2026 di Lampung Timur. Langkah ini dilakukan untuk mendorong hilirisasi komoditas singkong dan memperkuat ketahanan pangan melalui kemitraan industri.

Integrasi IKM ke rantai pasok

Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menyatakan industri makanan dan minuman tumbuh 7,04 persen pada Triwulan I 2026. Subsektor ini juga menyumbang PDB nasional terbesar antar subsektor pengolahan nonmigas, yakni 7,31 persen.

"Selain tumbuh kuat, subsektor ini juga memberikan kontribusi terbesar terhadap PDB nasional. Dibandingkan subsektor industri pengolahan nonmigas lainnya, yaitu sebesar 7,31 persen,"

Faisol menegaskan integrasi IKM bertujuan agar produk singkong Indonesia meningkat nilai tambahnya. Upaya ini sejalan dengan arahan presiden untuk percepatan industrialisasi melalui hilirisasi sumber daya alam.

"Karena itu, sejalan dengan arahan Bapak Presiden mengenai percepatan industrialisasi melalui hilirisasi sumber daya alam. Kemenperin terus mendorong transformasi industri pangan agar Indonesia mampu mengolah sumber daya alamnya menjadi produk bernilai tambah tinggi,"

Potensi Lampung sebagai sentra singkong

Provinsi Lampung menjadi lokasi strategis karena produksi singkong mencapai 7,9 juta ton pada 2024, setara 51 persen produksi nasional. Kabupaten Lampung Timur disebut Faisol sebagai penopang utama, berkat ekosistem yang melibatkan petani, gabungan kelompok tani, dan pelaku IKM.

"Kabupaten Lampung Timur sendiri adalah salah satu penopang utama keberlangsungan industri pengolahan singkong nasional. Dengan ekosistem yang telah berkembang, mulai dari petani, Gabungan Kelompok Tani, hingga pelaku IKM olahan singkong,"

Pendampingan teknis dan Program Vendor Development

Kemenperin menyelaraskan kegiatan ini dengan Instruksi Menteri Perindustrian Nomor 2 Tahun 2026 tentang Program Vendor Development. Program mendorong kemitraan IKM dengan industri besar melalui peningkatan kapasitas, kualitas produk, dan integrasi rantai pasok.

Dirjen IKMA Reni Yanita menjelaskan program ini memberi pemahaman dan pendampingan teknis sesuai standar keamanan pangan. Pendampingan awal dijalankan secara luring selama tiga hari, lalu dilanjutkan daring dalam dua fase.

"Tahapan selanjutnya adalah pendampingan teknis yang bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada peserta. Bagaimana proses produksi yang dijalankan memenuhi persyaratan keamanan pangan,"

"Semoga upaya ini menjadi langkah strategis dalam menciptakan industri pengolahan singkong lokal yang mampu bersaing baik di pasar maupun rantai pasok industri,"

Prospek dan implikasi

Pembinaan tidak hanya meningkatkan kompetensi teknis, tetapi juga mempertemukan IKM dengan calon mitra industri untuk membangun kemitraan berkelanjutan. Jika berhasil, integrasi ini berpotensi meningkatkan kualitas produk, membuka akses pasar yang lebih luas, dan menguatkan ketahanan rantai pasok pangan nasional.

Sarah Kurniawati
Penulis
Sarah Kurniawati

Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.

Berita Terkait