Mendag: Industri Manufaktur Harus Manfaatkan Perjanjian Dagang
Menteri Perdagangan Budi Santoso menekankan pentingnya pelaku industri manufaktur memanfaatkan perjanjian dagang guna meningkatkan ekspor. Pernyataan itu disampaikan di Jakarta, Kamis, 16 Juli 2026, saat bertemu perwakilan industri termasuk PT Denso Indonesia. Pemerintah mendorong pemanfaatan perjanjian dagang untuk memperoleh tarif yang lebih kompetitif dan memperluas akses pasar.
Dorongan untuk pelaku manufaktur
Budi mengatakan Indonesia memiliki 20 perjanjian dagang yang telah diimplementasikan, sementara sejumlah perjanjian lain berada pada tahapan ratifikasi dan negosiasi. Ia mengajak perusahaan yang berinvestasi di Indonesia agar mengoptimalkan fasilitas tersebut saat mengekspor produknya.
Dalam pertemuan, perwakilan Denso memberi masukan untuk meningkatkan daya saing nasional. Masukan itu mencakup penyederhanaan administrasi dan penguatan infrastruktur penunjang ekspor.
"Kami dorong perusahaan yang berinvestasi di Indonesia seperti PT Denso Indonesia, untuk memanfaatkan perjanjian dagang yang dimiliki Indonesia. Pelaku usaha bisa mendapatkan tarif yang lebih kompetitif di pasar negara tujuan ekspor,"
Otomatisasi e-SKA untuk memudahkan akses tarif preferensi
Untuk mempermudah pemanfaatan fasilitas tarif preferensi, Kementerian Perdagangan memperkenalkan otomatisasi pemanfaatan Surat Keterangan Asal preferensi berbasis e-SKA. Sistem ini mengarahkan eksportir secara otomatis untuk memanfaatkan tarif preferensi saat mengekspor ke negara mitra perjanjian dagang.
"Sistem di SKA Indonesia sudah dibuat otomatis. Ketika pelaku usaha mengekspor ke negara yang sudah mempunyai perjanjian dagang dengan Indonesia, sistem akan langsung mengarahkan,"
Saat ini otomatisasi e-SKA diberlakukan untuk ekspor ke beberapa negara mitra, antara lain:
- Uni Emirat Arab (UEA)
- Hong Kong
- Jepang
- Tiongkok
- Korea Selatan
- Australia
- Pakistan
Penyelesaian hambatan dan koordinasi lintas lembaga
Budi menegaskan Kementerian Perdagangan akan terus berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait untuk menyelesaikan hambatan yang dihadapi eksportir. Ia meminta pelaku usaha untuk mengkomunikasikan kendala di lapangan agar dapat segera ditindaklanjuti bersama lembaga terkait.
"Setiap kendala yang dihadapi pelaku usaha di lapangan perlu dikomunikasikan. Dengan begitu, dapat segera kami tindak lanjuti bersama kementerian dan lembaga terkait,"
Langkah-langkah tersebut diharapkan dapat mengoptimalkan pemanfaatan perjanjian dagang dan meningkatkan daya saing produk manufaktur Indonesia di pasar internasional.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...