KSOP Tanjung Priok Naikkan YOR, Siapkan Patimban Antisipasi Kemacetan
KSOP Utama Tanjung Priok menyiapkan langkah darurat untuk mencegah kemacetan logistik setelah lonjakan impor yang tidak diimbangi arus ekspor menekan kapasitas penumpukan peti kemas, Jumat, 17 Juli 2026. Langkah itu meliputi usulan penyesuaian Yard Occupancy Ratio (YOR) dari 65 persen menjadi 70 persen, penambahan gate pass bila diperlukan, dan repositioning empty container ke Pelabuhan Patimban. Kebijakan ditujukan menjaga kelancaran distribusi peti kemas dan rantai pasok nasional.
Langkah darurat yang diusulkan
KSOP mengusulkan penyesuaian batas YOR sementara untuk memberi ruang manajemen terminal menghadapi lonjakan arus peti kemas. Perubahan YOR diharapkan memberi fleksibilitas operasional tanpa mengorbankan keselamatan dan pelayanan.
"Penyesuaian ini diharapkan dapat memberikan ruang fleksibilitas dalam pengelolaan arus peti kemas. Dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan, kelancaran operasional, dan kualitas pelayanan kepada pengguna jasa," ujar Capt. Heru Susanto.
Selain YOR, KSOP membuka peluang penambahan gate pass bagi operator terminal saat diperlukan. Penambahan gate pass akan dipertimbangkan berdasarkan kondisi lalu lintas di dalam terminal dan akses jalan menuju pelabuhan.
Pemanfaatan Pelabuhan Patimban
Sebagai langkah antisipasi lain, KSOP menyiapkan Pelabuhan Patimban untuk repositioning empty container. Kapasitas yang disiapkan mencapai sekitar 1.000 TEUs untuk periode 7–10 hari, guna mengurangi beban penumpukan di Tanjung Priok.
"Opsi tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi beban penumpukan di Tanjung Priok. Meski akses tol menuju Patimban baru ditargetkan beroperasi pada kuartal III 2027," kata Capt. Heru Susanto.
Meski demikian, pemanfaatan Patimban masih mempertimbangkan akses darat yang optimal menuju lokasi. KSOP akan memantau kondisi arus lalu lintas agar langkah ini tidak menimbulkan kepadatan baru di jalur akses.
Detail operasional dan evaluasi
Usulan penyesuaian YOR dan kebijakan operasional lain akan dilaksanakan sementara dan dievaluasi setelah satu bulan. Evaluasi bertujuan mengukur efektivitas langkah terhadap kelancaran distribusi peti kemas.
KSOP menegaskan semua kebijakan darurat akan tetap mengedepankan aspek keselamatan serta kualitas layanan kepada pengguna jasa pelabuhan. Implementasi juga akan disesuaikan dengan kondisi riil di lapangan selama periode percobaan.
Implikasi bagi rantai pasok
Langkah ini diambil untuk menekan potensi kemacetan logistik yang bisa mengganggu rantai pasok nasional. Dengan penyesuaian YOR dan opsi reposisi kontainer, otoritas berharap menstabilkan aliran barang sambil menunggu pemulihan keseimbangan ekspor-impor.
Evaluasi berkala akan menentukan apakah kebijakan sementara perlu dilanjutkan, diperketat, atau dikembalikan ke batas semula setelah tekanan arus peti kemas mereda.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Kemenperin Integrasikan IKM Singkong ke Rantai Pasok Industri
Kemenperin mengintegrasikan IKM olahan singkong Lampung ke rantai pasok industri besar lewat Program Vendor...
Harga Emas Pegadaian Turun, Galeri24 dan UBS Lanjut Koreksi
Harga emas Pegadaian turun pada 17 Juli 2026; Galeri24 dan UBS koreksi masing-masing Rp28.000 dan Rp27.000 p...
Modal Asing Masuk, Rupiah Dibuka Menguat ke Rp17.978
Rupiah menguat saat dibuka ke Rp17.978 karena aliran modal asing dan kenaikan kepemilikan SBN, meski risiko...
IHSG Menguat pada Sesi I, Phintraco Perkirakan Uji Resistansi
IHSG dibuka menguat ke level 6.112,84 pada sesi I (17/7/2026), didorong aksi beli asing dan data realisasi i...
Harga Emas Antam Turun Rp27.000 per Gram, 17 Juli 2026
Emas Antam turun Rp27.000/gram pada 17 Juli 2026; harga 1 gram kini Rp2.606.000 berdasarkan data Logam Mulia...
IHSG Berpeluang Lanjutkan Penguatan Ditopang Beli Asing
IHSG diperkirakan melanjutkan penguatan hari ini, didorong aksi beli investor asing dan data realisasi inves...