Ekonomi

Insentif Mobil Listrik Nikel Perkuat Hilirisasi Industri

Bagikan:
Ilustrasi mobil listrik dan baterai nikel di fasilitas produksi

Pemerintah berencana memberikan insentif PPN DTP 100% bagi mobil listrik berbasis baterai nikel, kebijakan yang dinilai dapat memperkuat hilirisasi industri nikel nasional. Pernyataan itu disampaikan para pengamat dan pejabat terkait seiring rencana implementasi yang diumumkan menjelang pertengahan 2026 di Indonesia.

Alasan dan rekomendasi ahli

Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep), Bisman Bakhtiar, menilai pemberian insentif penuh untuk kendaraan listrik berbasis nikel menjadi momentum penting bagi Indonesia. Menurutnya, kebijakan ini berpotensi meningkatkan posisi negara dalam rantai nilai industri baterai global.

"Insentif ini sangat penting untuk meningkatkan nilai tambah hilirisasi. Jika tidak diperkuat dengan kebijakan, kita hanya akan menjadi pemasok bahan baku, padahal kita memiliki cadangan nikel terbesar di dunia," ujar Bisman, Jumat, 29 Mei 2026.

Bisman menekankan bahwa skema fiskal harus dilengkapi aturan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) agar penguatan industri tidak berhenti pada peningkatan konsumsi kendaraan listrik semata.

"Jangan sampai kita hanya menjadi pasar. Kita harus menjadi pemain utama. Kebijakan insentif atau kemudahan lain harus sinkron dengan penguatan industri komponen di dalam negeri," tambahnya.

Skema insentif pemerintah

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut pemerintah menyiapkan skema PPN Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) 100% untuk mobil listrik berbasis baterai nikel. Sementara itu, kendaraan listrik non-nikel mendapatkan PPN DTP 40%.

Pemerintah juga menyiapkan subsidi untuk sepeda motor listrik sebesar Rp5 juta per unit. Program ini menargetkan sekitar 200 ribu unit dan direncanakan mulai berjalan pada Juni 2026.

Percepatan pembangunan pabrik baterai

Hilirisasi industri baterai terus dipacu oleh Indonesia Battery Corporation (IBC) bersama mitra global. IBC bekerja sama dengan Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL) dan Ningbo Contemporary Brunp Lygend (CBL) membentuk konsorsium perusahaan patungan Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB).

Konsorsium itu mempersiapkan operasional pabrik baterai di Karawang dengan kapasitas produksi mencapai 6,9 gigawatt hour (GWh) per tahun. Pabrik ditargetkan mulai beroperasi pada Juli 2026.

Dampak dan prospek

Para ahli menilai baterai berbasis Nickel Manganese Cobalt (NMC) memiliki prospek kuat di pasar kendaraan listrik global, khususnya untuk kendaraan performa tinggi dan jarak jauh. Namun, mereka menekankan bahwa insentif fiskal perlu diiringi kebijakan industri lokal agar nilai tambah benar-benar tertahan di dalam negeri.

Jika kebijakan fiskal dan aturan TKDN berjalan selaras dengan investasi pabrik baterai, Indonesia berpotensi naik kelas dari pemasok bahan mentah menjadi pemain utama dalam rantai nilai kendaraan listrik global.

J
Penulis
John Doe

No bio yet 😊

Berita Terkait