Indonesia Puncaki Transparansi Pajak Dunia 2026
Indonesia menempati peringkat pertama dalam indeks transparansi belanja perpajakan dunia tahun 2026. Hasil Global Tax Expenditures Transparency Index (GTETI) menempatkan Indonesia dengan skor 79,9 poin dari 116 negara yang dinilai, menurut keterangan Kementerian Keuangan, Senin, 18 Mei 2026. Capaian ini dinilai memperkuat tata kelola fiskal dan kredibilitas pengelolaan APBN.
Hasil dan perbandingan internasional
Indonesia mengungguli sejumlah negara maju dalam penilaian GTETI. Australia berada di posisi ketiga, sementara Amerika Serikat tercatat di peringkat ke-17. Penilaian GTETI bersifat komparatif dan menilai kualitas pelaporan insentif perpajakan di tingkat global.
Posisi puncak 2026 juga menunjukkan tren kenaikan. Pada 2023, Indonesia berada pada posisi ke-15 dan naik ke posisi kedua tahun berikutnya, sebelum menembus puncak pada 2026.
Apa yang dinilai GTETI
GTETI mengevaluasi beberapa aspek utama pelaporan belanja perpajakan. Penilaian meliputi keterbukaan data, evaluasi kebijakan, dan kualitas informasi terkait insentif pajak. Indeks ini dimaksudkan untuk membandingkan praktik pelaporan antarnegara serta mendorong akuntabilitas fiskal.
Respons pemerintah dan tujuan kebijakan
Kementerian Keuangan menyatakan capaian ini memperkuat kepercayaan publik dan investor terhadap pengelolaan fiskal. Pemerintah menegaskan insentif perpajakan diarahkan untuk mendukung stabilitas ekonomi secara selektif, tanpa membebani kapasitas keuangan negara.
“Pelaporan belanja perpajakan akan terus disempurnakan melalui monitoring dan evaluasi berkala. Pemerintah ingin manfaat insentif semakin terukur bagi perekonomian nasional,”
Dalam keterangan resmi, Kementerian Keuangan menambahkan bahwa kebijakan fiskal diarahkan untuk hasil yang terukur dan berkelanjutan.
“Insentif perpajakan mendukung kehidupan masyarakat yang semakin berkualitas dan produktif. Kebijakan tersebut juga memperkuat iklim investasi nasional,”
Alokasi insentif 2025 dan dampak sosial-ekonomi
Pada 2025, lebih dari 70 persen belanja perpajakan diarahkan kepada rumah tangga dan UMKM. Total alokasi tercatat lebih dari Rp389 triliun menurut laporan TER nasional.
Insentif tersebut ditujukan untuk kebutuhan pokok, pendidikan, kesehatan, transportasi, serta penciptaan lapangan kerja. Berikut ringkasan alokasi dan target manfaat:
- Lebih 70% dialokasikan kepada rumah tangga dan UMKM
- Total alokasi: lebih dari Rp389 triliun (2025)
- Bidang utama: kebutuhan pokok, pendidikan, kesehatan, transportasi
- Tujuan: kelangsungan sosial dan penciptaan lapangan kerja
| Indikator | Data |
|---|---|
| Skor GTETI 2026 | 79,9 |
| Jumlah negara dinilai | 116 |
| Peringkat Australia | 3 |
| Peringkat Amerika Serikat | 17 |
| Alokasi belanja perpajakan 2025 | > Rp389 triliun (lebih 70% untuk rumah tangga & UMKM) |
Ke depan, pemerintah berencana memperkuat mekanisme monitoring dan evaluasi agar manfaat insentif semakin terukur. Peningkatan transparansi ini diharapkan mendorong akuntabilitas fiskal dan memperkuat iklim investasi nasional.
Berita Terkait
LPS Siapkan Penjaminan Polis melalui Penataan Struktur Organisasi
LPS menata ulang struktur Dewan Komisioner untuk mempersiapkan Program Penjaminan Polis pasca-P2SK dan mempe...
DPR Minta BI Jaga Nilai Tukar Rupiah di Rp16.500 per Dolar
DPR minta BI menjaga kurs rupiah sesuai asumsi APBN di Rp16.500 per dolar AS, sambil mengingat pengalaman kr...
BI Pastikan Cadangan Devisa Aman Meski Dipakai Stabilisasi Rupiah
BI menyatakan cadangan devisa USD146,2 miliar aman dan cukup untuk menopang stabilitas rupiah serta ketahana...
OJK: Koreksi IHSG Wajar di Tengah Rebalancing MSCI
OJK menyatakan koreksi IHSG pada 19 Mei 2026 wajar akibat rebalancing MSCI, geopolitik, dan kebijakan monete...
Kemendag Fasilitasi UMKM Tembus Pasar Buyer Asing Tujuh Negara
Kemendag fasilitasi business networking yang mempertemukan tiga UMKM dengan buyer asing dari tujuh negara un...
Kemenperin-Perkosmi Perluas Rantai Pasok IKM Kosmetik
Kemenperin dan Perkosmi memperluas kemitraan rantai pasok untuk memperkuat IKM kosmetik, meningkatkan akses...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!