Nasional

Indonesia Perkuat Kolaborasi AI sebagai Pendiri WICO

Bagikan:
Ilustrasi kolaborasi internasional di bidang kecerdasan buatan

Indonesia resmi bergabung sebagai negara pendiri organisasi kecerdasan buatan global WICO bersama tiga puluh negara, kata Ardi Sutedja K, Founder dan Chairman Indonesia Cyber Security Forum (ICSF). Keanggotaan ini dinilai membuka peluang memengaruhi kebijakan internasional dan memperluas kerja sama teknologi lintas negara.

“Keikutsertaan Indonesia memberikan posisi strategis. Yakni, untuk memengaruhi tata kelola kecerdasan buatan global sekaligus memperluas jaringan internasional,”

Potensi akses teknologi dan riset

Ardi menjelaskan keanggotaan WICO memberi kesempatan bagi Indonesia untuk mengakses teknologi dan penelitian terbaru. Akses ini dinilai krusial untuk memperkuat riset, keamanan siber, dan pengelolaan risiko nasional.

“Kami membutuhkan akses terhadap teknologi terbaru dan penelitian. Kemudian, cara mengelola keamanan dan risiko kecerdasan buatan secara global,”

Dengan akses tersebut, diharapkan kemampuan riset domestik meningkat dan adopsi teknologi dapat dipercepat. Kolaborasi internasional juga memungkinkan transfer pengetahuan yang mempercepat penguasaan teknologi yang masih berkembang di dalam negeri.

Kesiapan nasional yang masih harus diperkuat

Meski peluang terbuka, Ardi mengingatkan masih ada sejumlah aspek domestik yang perlu diperkuat agar Indonesia dapat sejajar dengan negara anggota WICO lainnya. Ia menekankan pentingnya penilaian kemampuan nasional secara menyeluruh.

  • Infrastruktur teknologi
  • Regulasi dan tata kelola
  • Pengembangan talenta
  • Ekosistem inovasi
  • Literasi publik
  • Etika penggunaan kecerdasan buatan

“Kita harus menilai kemampuan sendiri. Mulai dari infrastruktur, regulasi, talenta, hingga etika sebelum benar-benar sejajar dengan negara lain,”

Ardi juga menyoroti kebutuhan transparansi kebijakan dan sosialisasi regulasi kepada masyarakat serta pelaku industri. Menurutnya, pemahaman yang merata akan mempercepat adopsi teknologi sekaligus memperkuat daya saing sumber daya manusia Indonesia.

Dampak bagi pelaku usaha mikro

Selain aspek kebijakan dan teknis, Ardi melihat pengembangan kecerdasan buatan berpotensi mempercepat kemajuan usaha mikro. Akses teknologi, pembiayaan, dan perlindungan usaha yang lebih baik diharapkan mampu mendongkrak produktivitas dan daya saing UMKM.

Ia menambahkan bahwa masyarakat perlu terus mempelajari kecerdasan buatan agar pemanfaatannya aman, bertanggung jawab, dan memberikan manfaat luas bagi berbagai lapisan. Untuk itu, kolaborasi antar-pemangku kepentingan — pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat — menjadi kunci agar Indonesia dapat memaksimalkan peluang keanggotaan di WICO.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait