Lokal

Khofifah Lantik PW IKA UNAIR Aceh 2025–2030, Dorong Akses Pendidikan

Bagikan:
Khofifah melantik PW IKA UNAIR Aceh di Hotel Amel Banda Aceh pada 19 Oktober

BANDA ACEH — Ketua Umum Pengurus Pusat IKA UNAIR, Dr. (HC) Hj. Khofifah Indar Parawansa, melantik Pengurus Wilayah Ikatan Alumni Universitas Airlangga (PW IKA UNAIR) Aceh periode 2025–2030 pada Senin malam (19/10) di Hotel Amel, Banda Aceh. Pelantikan bertujuan menguatkan jejaring alumni untuk memperluas akses pendidikan tinggi dan mendukung pembangunan daerah.

Pelantikan dan peserta

Acara dihadiri Ketua PW IKA UNAIR Aceh, Dr. H. Taqwaddin, SH, MH, serta jajaran pengurus. Hadir pula perwakilan pengadilan tinggi, organisasi keagamaan, alumni Universitas Airlangga, dan rombongan Pengurus Pusat IKA UNAIR. SK pengurus dibacakan oleh Sekjen PP IKA UNAIR, Cak Dr. Indra N. Fauzi.

Perluasan akses pendidikan untuk Aceh

Ketua PW IKA UNAIR Aceh, Dr. H. Taqwaddin, menekankan pentingnya menghubungkan potensi generasi muda Aceh dengan kesempatan menempuh pendidikan tinggi di perguruan tinggi terkemuka. Ia berharap UNAIR memberi perhatian lebih kepada putra-putri Aceh yang berpotensi akademik.

Menurut Taqwaddin, IKA UNAIR Aceh harus berperan bukan sekadar sebagai wadah silaturahmi. Organisasi alumni harus menjadi jembatan antara kebutuhan pendidikan daerah dan kebijakan perguruan tinggi, sambil tetap menjunjung prinsip meritokrasi.

Keadilan pembangunan dan kerja sama lintas daerah

Taqwaddin juga menyoroti ketimpangan kesejahteraan. Pembangunan Aceh, kata dia, harus dinilai dari seberapa merata manfaatnya dirasakan masyarakat, bukan semata angka pertumbuhan atau besar anggaran.

Ia melihat posisi Khofifah sebagai Gubernur Jawa Timur dan Ketua Umum IKA UNAIR sebagai peluang membangun kolaborasi strategis antara Aceh dan Jawa Timur di bidang pendidikan, ekonomi, pertanian, dan kesehatan.

Peran alumni: karya dan tanggung jawab

Khofifah mengingatkan bahwa reputasi universitas bergantung pada karya nyata alumninya. Alumni harus menerjemahkan ilmu menjadi manfaat sosial, kebijakan, penelitian, dan kesempatan ekonomi.

Menurutnya, hubungan alumnus dengan almamater tidak berakhir setelah ijazah. Justru tanggung jawab untuk mengamalkan ilmu semakin besar dalam pelayanan publik, dunia usaha, akademia, dan pengabdian masyarakat.

Gerakan penghijauan dan program kerja

Salah satu ajakan Khofifah adalah menghidupkan kembali semangat menanam pohon sebagai bentuk kepedulian lingkungan. Ia merujuk pada nilai moral dan ajaran hadis riwayat Ahmad yang mendorong menanam meski hasilnya tidak langsung dinikmati.

Untuk menerjemahkan harapan-harapan tersebut menjadi program nyata, PW IKA UNAIR Aceh menyusun beberapa inisiatif prioritas:

  1. Alumni mengunjungi sekolah untuk informasi pendidikan tinggi, jalur penerimaan, dan beasiswa.
  2. Pendampingan siswa berpotensi melalui penguatan literasi dan persiapan seleksi masuk.
  3. Fasilitasi komunikasi antara UNAIR, sekolah, dan Dinas Pendidikan Aceh untuk kerja sama kelembagaan.
  4. Himpunan alumni memberi kuliah umum, pelatihan, dan konsultasi profesional.
  5. Program penghijauan yang terencana, termasuk pemeliharaan dan evaluasi kelangsungan hidup tanaman.

Program itu dirancang dengan target realistis, penanggung jawab jelas, serta evaluasi berkala agar mampu memberi manfaat langsung bagi masyarakat Aceh.

Pelantikan PW IKA UNAIR Aceh 2025–2030 menegaskan harapan agar organisasi alumni berkembang menjadi ruang persaudaraan produktif, inklusif, dan berorientasi pada karya yang nyata bagi masa depan Aceh.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait