Ekonomi

IHSG Menguat ke 6.525,69 pada Penutupan 21 Agustus 2026

Bagikan:
Grafik IHSG menunjukkan penutupan menguat di level 6.525,69 pada 21 Agustus 2026

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada sesi perdagangan Jumat, 21 Agustus 2026, berada di posisi 6.525,69 atau naik 24,1 poin (0,37%) dari pembukaan di level 6.524,07. Kenaikan didorong respons pelaku pasar terhadap data ekonomi regional dan ekspektasi terhadap pertemuan kebijakan penting.

Ringkasan Perdagangan

Pergerakan pasar menunjukkan mayoritas saham menguat dengan 319 saham naik, 294 saham turun, dan 178 saham stagnan. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp16,95 triliun sementara volume perdagangan sebesar 53,18 miliar lembar dan frekuensi lebih dari 2,25 juta kali transaksi.

Sentimen Regional dan Data Ekonomi

Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas menilai pergerakan bursa regional menjadi perhatian utama pelaku pasar. Pasar merespons rilis data ekonomi Jepang serta menanti pertemuan komite kebijakan Tiongkok akhir bulan ini.

“Bursa regional Asia bergerak menguat, tampaknya pelaku pasar merespon rilis data ekonomi Jepang dan juga menantikan pertemuan komite Tiongkok,”

Aktivitas manufaktur Jepang menunjukkan perbaikan. Indeks Manajer Pembelian (PMI) manufaktur versi S&P Global naik menjadi 55,1 dari 54,5 pada bulan sebelumnya, menandai ekspansi bulan kedelapan beruntun dan pencapaian terkuat sejak April 2026.

Pengaruh Global: Imbal Hasil dan Harga Minyak

Di Amerika Serikat, pasar tetap waspada terhadap volatilitas Wall Street yang dipicu kekhawatiran terhadap imbal hasil obligasi jangka panjang. Kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya pembiayaan pemerintah dan memberi tekanan pada pasar saham global.

Selain itu, harga minyak dunia melonjak seiring meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Analis menyebut pasar mengamati kemungkinan sanksi ekonomi baru AS terhadap Iran dan risiko gangguan di Selat Hormuz.

Faktor Domestik: Neraca Pembayaran dan Kebijakan BEI

Dari sisi domestik, Bank Indonesia melaporkan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) triwulan II 2026 tetap terjaga dengan defisit menyempit menjadi 0,9 miliar dolar AS, membaik dari defisit 9,1 miliar dolar AS pada periode sebelumnya.

Pelaku pasar juga menyorot rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk menghapus batas harga minimum saham guna meningkatkan likuiditas dan efisiensi perdagangan pada saham berharga rendah. Namun, perubahan ini dinilai berpotensi menaikkan risiko spekulasi pada saham-saham tersebut.

Prospek dan Pemantauan

Investor diperkirakan akan terus memantau pertemuan Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional Tiongkok pada 25-28 Agustus 2026 serta perkembangan imbal hasil AS dan harga minyak. Pergerakan IHSG ke depan akan sangat bergantung pada data ekonomi regional, sentimen geopolitik, dan kebijakan domestik yang memengaruhi likuiditas pasar.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait