Awal Pekan: IHSG Diprediksi Terus Tertekan ke 6.500-6.550
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprakirakan melanjutkan pelemahan pada awal pekan ini setelah penutupan terakhir pada Rabu, 13 Mei 2026 yang turun 1,98 persen atau 135,5 poin ke level 6.723. Analis menilai tekanan datang dari pelemahan rupiah dan sentimen global.
Kondisi pasar dan proyeksi IHSG
Tim Analis Phintraco Sekuritas mengatakan IHSG berisiko breakdown di level 6.700 dan berpotensi menguji area 6.500-6.550. Penurunan pekan lalu menjadi dasar proyeksi tersebut.
"IHSG kemungkinan akan breakdown pada level 6.700 dan berpotensi menguji level 6.500-6.550," kata Tim Analis Phintraco Sekuritas.
Faktor domestik: RDG BI dan data ekonomi
Dari sisi domestik, pelaku pasar mencermati Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pekan ini. Pelaku pasar memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan pada posisi 4,75 persen.
Selain RDG, pasar juga menunggu rilis data penting yang akan dirilis BI, antara lain:
- pertumbuhan kredit,
- perkembangan transaksi berjalan triwulan I 2026.
Dampak eksternal: pasar global, minyak, dan geopolitik
Pergerakan IHSG juga dipengaruhi pelemahan bursa global. Indeks di Wall Street ditutup negatif karena aksi ambil untung pada saham teknologi dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
"Investor melakukan aksi profit taking pada saham-saham sektor teknologi," ujar Tim Phintraco.
Yield US Treasury tenor 30 tahun tercatat naik hingga sekitar 5,1 persen, seiring kekhawatiran inflasi dan potensi kenaikan suku bunga. Kenaikan harga minyak mentah lebih dari 3 persen juga menambah tekanan pasar, dipicu belum tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran.
Phintraco menambahkan bahwa pertemuan antara Presiden AS dan Presiden Tiongkok berakhir tanpa kesepakatan besar, sehingga menurunkan sentimen investor.
Pandangan ke depan
Pelaku pasar kini menantikan hasil rapat The Fed untuk mendapat indikasi arah suku bunga global, apalagi AS baru-baru ini merilis angka inflasi yang lebih tinggi dari ekspektasi. Di kawasan Asia, perhatian tertuju pada data ekonomi Tiongkok seperti produksi industri dan penjualan ritel, serta kemungkinan kebijakan suku bunga bank sentral Tiongkok yang diperkirakan tetap pada suku bunga primer masing-masing 3 persen (satu tahun) dan 3,5 persen (lima tahun).
Secara keseluruhan, kombinasi tekanan eksternal dan indikator domestik menyiratkan risiko koreksi lanjutan pada IHSG dalam beberapa hari mendatang, khususnya jika rupiah terus melemah atau data ekonomi utama menunjukkan tekanan lebih lanjut.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
PLN Amankan Kelistrikan Upacara HUT ke-81 dengan Sistem Lima Lapis
PLN menyiagakan sistem pengamanan kelistrikan lima lapis dan ratusan personel untuk mengamankan Upacara HUT...
KAI Perbarui Situs kai.id, Dikunjungi 49,4 Juta Pengunjung
KAI meluncurkan tampilan baru situs kai.id pada 17 Agustus 2026; situs telah dikunjungi 49,4 juta pengunjung...
BI Luncurkan Kartu Kredit Indonesia dan Perluas MDR QRIS
Bank Indonesia meluncurkan Kartu Kredit Indonesia (KKI) pada 17 Agustus 2026 dan memperluas MDR QRIS nol per...
DPR: Target Lifting Minyak 610 Ribu Barel per Hari Realistis
Bambang Patijaya mengatakan target lifting minyak 610 ribu bph dan gas 950 ribu bph setara minyak pada RAPBN...
Tarif Rp8 KAI: 27.620 Tiket Diskon Terjual pada 17 Agustus
KAI memberlakukan tarif Rp8 untuk LRT Jabodebek dan sebagian Commuter Line pada 17 Agustus; 27.620 tiket dis...
Menkeu: Mekanisme Pembiayaan Mitigasi Bencana NTT Sudah Disiapkan
Pemerintah menyiapkan mekanisme pembiayaan untuk mitigasi dan penanganan gempa NTT, dengan dana BNPB sekitar...