Ekonomi

IHSG Ditutup Menguat ke 5.912,44, Dipengaruhi Geopolitik dan Minyak

Bagikan:
Grafik pergerakan IHSG dan pengaruh harga minyak

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada level 5.912,44 pada sesi perdagangan Kamis, 9 Juli 2026, atau naik 39,07 poin (0,67%). Kenaikan terjadi meski pasar dibayangi eskalasi geopolitik di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak global.

Ringkasan pergerakan pasar

IHSG dibuka pada level 5.865,77 dan bergerak fluktuatif sepanjang hari sebelum menyentuh titik tertinggi di 5.912,44. Mayoritas saham mengalami penguatan: 327 saham naik, 275 saham turun, dan 190 saham stagnan.

Aktivitas perdagangan tercatat dengan nilai transaksi sekitar Rp11,387 triliun. Volume perdagangan mencapai 26,650 miliar lembar saham dengan frekuensi lebih dari 2,231 juta kali transaksi.

Indikator Angka
Penutupan IHSG 5.912,44
Perubahan +39,07 poin (0,67%)
Nilai transaksi Rp11,387 triliun
Volume 26,650 miliar lembar
Frekuensi 2,231 juta kali

Sentimen geopolitik dan harga energi

Pihak analis dari Pilarmas Investindo Sekuritas menilai sentimen negatif utama datang dari meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Eskalasi tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur distribusi energi, khususnya di Selat Hormuz.

“Eskalasi konflik tersebut memicu kekhawatiran terhadap keamanan jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz,”

Imbasnya, harga minyak melonjak. Harga minyak mentah WTI tercatat di US$74,48 per barel, sedangkan Brent berada di US$78,02 per barel.

Dampak pada inflasi dan suku bunga

Kenaikan harga energi dinilai berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global. Hal ini membuka kemungkinan The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga acuan, menurut Pilarmas.

“Risalah pertemuan The Fed menunjukkan sebagian pejabat mulai mengkhawatirkan risiko inflasi yang kembali meningkat. Sejumlah anggota bahkan memproyeksikan adanya kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada tahun ini,”

Prospek suku bunga yang lebih tinggi bisa memicu arus keluar modal dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga menekan nilai tukar rupiah dan pasar saham domestik.

Sentimen domestik: percepatan Transfer ke Daerah

Di sisi positif, percepatan realisasi Transfer ke Daerah (TKD) menjadi katalis lokal. Hingga semester I-2026, penyaluran TKD mencapai Rp357,4 triliun atau 51,6% dari pagu APBN 2026.

Menurut analis, percepatan ini dapat mendorong aktivitas ekonomi daerah. Namun efek riil terhadap pertumbuhan tergantung pada kualitas dan produktivitas belanja pemerintah daerah.

Pandangan ke depan: pasar tetap rentan terhadap perkembangan geopolitik dan data inflasi global. Investor akan memantau pergerakan harga energi dan sinyal kebijakan The Fed, sekaligus efektivitas belanja daerah sebagai penopang permintaan domestik.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait