IHSG Menguat 1,07% ke 5.806,17 Saat Sesi I
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada sesi I Bursa Efek Indonesia, Jumat, 3 Juli 2026. Indeks tercatat di 5.806,17, naik sekitar 61,61 poin (1,07%) dibanding penutupan sebelumnya, seiring investor mencermati data ketenagakerjaan AS dan kebijakan domestik.
Pembukaan pasar dan proyeksi pergerakan
Harga saham bergerak menguat pada pembukaan meski pasar diperkirakan cenderung landai di akhir pekan. Pada hari sebelumnya, Kamis (2/7/2026), IHSG ditutup menguat 49,44 poin atau 0,87% ke level 5.744,56.
Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, memperkirakan indeks akan bergerak fluktuatif namun terbatas. Dia memprediksi rentang pergerakan intraday yang sempit.
"Hari ini IHSG berpotensi sideways (stagnan). Indeks akan bergerak di kisaran 5.650-5.870,"
Sentimen global: data ketenagakerjaan AS
Sentimen eksternal menjadi penentu arah pasar pada sesi ini. Data ketenagakerjaan AS menunjukkan penciptaan hanya sekitar 57.000 pekerjaan pada Juni, jauh di bawah proyeksi ekonom sebesar 115.000.
Sementara itu, tingkat pengangguran turun menjadi 4,2%, lebih baik dari ekspektasi 4,3%. Fanny menilai data ini mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed.
"Data tenaga kerja AS yang melemah dari perkiraan menyebabkan harapan the Fed akan menahan kenaikan suku bunga,"
Reaksi pasar global tercermin pada reli di Wall Street; indeks Dow Jones melonjak sekitar 1,14% setelah rilis data, menutup pada level tertinggi sepanjang masa.
Di Asia, penutupan bursa beragam. Beberapa pasar melemah, dan pasar Korea Selatan tercatat anjlok hingga 5% yang dipengaruhi dinamika saham-saham perusahaan kecerdasan buatan (AI).
Sentimen domestik: PFII dan mandat baru OJK
Di dalam negeri, rencana pemerintah membentuk Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) menjadi salah satu topik pengamat pasar. Pemerintah berharap inisiatif ini menarik lebih banyak investasi asing dan domestik.
Selain itu, Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) memberi mandat baru kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Mulai 1 Januari 2027, OJK akan mengawasi bursa mineral dan komoditas strategis serta mendapat wewenang dalam pengelolaan dana publik.
Wewenang baru itu mencakup pengawasan atas pengelolaan dana di Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera), dan pengaturan penyisihan terkait aset kripto.
Pasar diperkirakan akan terus bereaksi terhadap kombinasi sentimen eksternal dan kebijakan domestik. Investor disarankan memantau rilis data global serta langkah implementasi mandat OJK yang dapat memengaruhi sektor-sektor tertentu.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
KA Mutiara Timur Layani 304.522 Penumpang Jan–Sep 2026
KA Mutiara Timur layani 304.522 penumpang Jan–Sep 2026, naik 22,78%; konektivitas ke Banyuwangi dan Ketapang...
ADB Gelontorkan USD650 Juta untuk Pendalaman Pasar Keuangan Indonesia
ADB setujui dukungan USD650 juta untuk memperdalam pasar modal, modernisasi keuangan digital, dan dorong pem...
OJK Targetkan Lima Bank Syariah Beraset Besar pada 2027
OJK menargetkan lima bank syariah beraset besar pada 2027 lewat konversi dan konsolidasi, dengan BSI sebagai...
Kenaikan PTKP Dinilai Angin Segar untuk Daya Beli
Ekonom FEB UI nilai kenaikan PTKP dapat menjaga daya beli dan memperkuat keadilan pajak; pembahasan lanjut d...
Grab Luncurkan Group Ride: Berbagi Ongkos hingga 50%
Grab meluncurkan fitur Group Ride sejak April 2026 untuk atur perjalanan bersama lewat satu pemesanan, denga...
Mobilitas Kereta Api Sumatra Capai 11,34 Juta Penumpang
KAI mencatat 11.342.350 pergerakan penumpang di Sumatra (Jan–Sep 2026), naik 12,02% dibandingkan 2025.