Rupiah Menguat Saat Pembukaan, Terpengaruh Data Ketenagakerjaan AS
Pembukaan perdagangan hari ini mencatat rupiah menguat terhadap dolar AS setelah rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah naik 0,21 persen atau sebesar 37 poin menjadi Rp17.958 per dolar AS pada pembukaan hari ini. Pergerakan ini mengikuti pelemahan dolar AS setelah data tenaga kerja Non-Farm Payrolls (NFP) bulan Juni yang lebih lemah dari perkiraan.
Pembukaan pasar dan pergerakan rupiah
Pada penutupan perdagangan Jumat lalu, rupiah sempat melemah 0,24 persen ke posisi Rp17.995 per dolar AS. Namun di awal sesi berikutnya mata uang domestik berbalik menguat, dipicu penurunan nilai dolar AS ke level 100,77, dari level 101 pada hari sebelumnya. Analis pasar uang menilai pergerakan ini masih rentan dan bersifat jangka pendek.
"Hari ini rupiah berpotensi berbalik menguat terhadap dolar AS,"
"Nilai tukar rupiah hari ini akan bergerak di kisaran Rp17.900-Rp18.000,"
Kutipan di atas disampaikan oleh Analis Pasar Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, yang menyorot potensi pergerakan rupiah dalam rentang tersebut.
Pengaruh data tenaga kerja AS
Rupiah menguat terutama karena pelemahan dolar AS pasca-rilis data Non-Farm Payrolls. Penyerapan tenaga kerja non-pertanian tercatat sebanyak 57 ribu pekerjaan pada Juni 2026. Angka ini turun signifikan dibandingkan penyerapan pada Mei 2026 yang mencapai 129 ribu pekerjaan.
Melemahnya data NFP tersebut menimbulkan harapan pasar bahwa The Fed bakal menunda kebijakan kenaikan suku bunga. Ekspektasi penundaan kebijakan moneter ketat biasanya menekan dolar AS, sehingga memberi ruang bagi mata uang negara berkembang untuk menguat.
Sentimen domestik dan prospek ke depan
Di sisi domestik, kondisi ekonomi triwulan II 2026 menunjukkan pelemahan. Para analis mencatat beberapa tekanan, antara lain tren inflasi yang meningkat, memburuknya keseimbangan eksternal, serta kontraksi sektor manufaktur yang semakin dalam dengan indeks berada di level 46,9.
"Kami melihat pengetatan kondisi keuangan akan menekan pertumbuhan ekonomi di triwulan II 2026 hingga triwulan I 2027. Selain itu, tekanan rupiah masih berlanjut, kembali mendekati level Rp18.000 per dolar AS,"
Perkataan tersebut disampaikan oleh ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto. Ia menilai kenaikan suku bunga Bank Indonesia yang agresif akan memperketat kondisi keuangan. Kondisi ini berpotensi menekan pertumbuhan dan mempertahankan tekanan pada rupiah dalam beberapa kuartal mendatang.
Secara keseluruhan, pasar akan memantau data-data ekonomi berikutnya serta kebijakan moneter global dan domestik. Pergerakan rupiah diperkirakan tetap volatil, terutama saat pasar merespons data ekonomi dan sinyal kebijakan bank sentral.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Jasa Marga Perkuat Layanan Tol lewat Expert Sharing Session
Jasa Marga gelar Expert Sharing Session 1 Juli 2026 di JMTC Bekasi untuk memperkuat layanan tol, inovasi tek...
George Adrian Lolos Semifinal DETEC Open 2026
George Adrian dari Kupang melaju ke semifinal KU12 DETEC Open 2026 setelah mengalahkan Kim Joo Young 5-4(5),...
Tiket Diskon KAI Capai 1,24 Juta, Okupansi Tembus 105,75%
KAI mencatat 1.242.114 tiket diskon selama libur sekolah, okupansi kumulatif 105,75% setelah program Diskon...
OLX Tambah Sub Kategori Mobil Baru untuk Bandingkan Mobil Baru & Bekas
OLX meluncurkan Sub Kategori Mobil Baru agar pembeli bisa membandingkan mobil baru dan bekas dalam satu plat...
Kereta Petani Pedagang Layani 26.074 Penumpang Semester I 2026
Kereta Petani Pedagang di lintas Rangkasbitung–Merak melayani 26.074 penumpang pada Semester I 2026 untuk me...
KAI Pastikan Sarana Diesel Siap Terapkan Biodiesel B50
KAI menyatakan seluruh lokomotif dan kereta pembangkit siap menerapkan biodiesel B50 sejak 1 Juli 2026 usai...