IHSG Melemah Jeda Siang, Terseret Tekanan Asing dan Gejolak Global
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada jeda siang perdagangan Selasa, 19 Mei 2026, turun 3,08% atau 202,97 poin ke level 6.396,27. Pergerakan intraday sempat menyentuh tertinggi 6.635,12 dan terendah 6.376,34.
Pergerakan pasar dan prospek teknikal
IHSG melemah signifikan awal sesi dan berada di bawah tekanan jual yang meluas. Analis melihat peluang koreksi teknis berbalik menguat dalam jangka pendek setelah tekanan jual yang terjadi beberapa hari terakhir.
Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, mengatakan ada peluang pemulihan teknikal sementara. Ia memperkirakan indeks bergerak pada rentang support 6.460–6.500 dan resistansi di kisaran 6.650–6.700.
"IHSG berpotensi short term technical rebound (berbalik menguat secara teknis dalam jangka pendek),"
Aksi investor asing dan saham yang banyak dilepas
Pelemahan juga didorong oleh aksi jual bersih investor asing yang masih berlanjut. Pada perdagangan sebelumnya, Senin 18 Mei 2026, IHSG turun 1,85% ke level 6.599,24 disertai net sell asing sebesar Rp460 miliar.
Saham yang paling banyak dilepas investor asing antara lain:
- ANTM
- BREN
- AMMN
- ADRO
- DSSA
Sentimen global menekan pasar
Selain tekanan domestik, sentimen global turut menekan pasar. Ketegangan di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak mentah mendorong kekhawatiran terhadap inflasi lebih tinggi.
"Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap tekanan inflasi dan biaya pinjaman, yang akan bertahan lebih lama,"
Di AS, indeks Nasdaq terkoreksi karena kenaikan harga minyak, naiknya imbal hasil obligasi pemerintah, dan pelemahan saham teknologi. Indeks S&P 500 nyaris stagnan, sedangkan Dow Jones masih berada di zona hijau.
Di Asia, pergerakan juga mayoritas melemah: Nikkei 225 turun 0,97%, Hang Seng melemah 1,11%, CSI 300 turun 0,54%, dan Taiex turun 0,68%.
Agenda domestik yang dinantikan pelaku pasar
Investor di dalam negeri menaruh perhatian pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 19–20 Mei 2026. Hasil rapat diperkirakan menjadi penentu arah imbal hasil dan volatilitas jangka pendek pasar.
"Pelaku pasar menanti arah kebijakan suku bunga acuan bank sentral,"
Dengan kombinasi tekanan asing, sentimen geopolitik, serta agenda kebijakan moneter domestik, pasar berpeluang menunjukkan volatilitas tinggi dalam beberapa hari ke depan. Pelaku pasar diimbau mencermati indikator teknikal dan rilis kebijakan yang akan datang.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
IHSG Diproyeksi Menguat Didukung Sentimen Domestik dan Global
IHSG diperkirakan menguat pada 18 Agustus 2026, didukung sentimen domestik dari RAPBN dan harga komoditas, n...
PLN Amankan Kelistrikan Upacara HUT ke-81 dengan Sistem Lima Lapis
PLN menyiagakan sistem pengamanan kelistrikan lima lapis dan ratusan personel untuk mengamankan Upacara HUT...
KAI Perbarui Situs kai.id, Dikunjungi 49,4 Juta Pengunjung
KAI meluncurkan tampilan baru situs kai.id pada 17 Agustus 2026; situs telah dikunjungi 49,4 juta pengunjung...
BI Luncurkan Kartu Kredit Indonesia dan Perluas MDR QRIS
Bank Indonesia meluncurkan Kartu Kredit Indonesia (KKI) pada 17 Agustus 2026 dan memperluas MDR QRIS nol per...
DPR: Target Lifting Minyak 610 Ribu Barel per Hari Realistis
Bambang Patijaya mengatakan target lifting minyak 610 ribu bph dan gas 950 ribu bph setara minyak pada RAPBN...
Tarif Rp8 KAI: 27.620 Tiket Diskon Terjual pada 17 Agustus
KAI memberlakukan tarif Rp8 untuk LRT Jabodebek dan sebagian Commuter Line pada 17 Agustus; 27.620 tiket dis...