Nasional

BMKG Minta Hemat Air Hadapi El Nino 2026

Bagikan:
BMKG imbau masyarakat hemat air hadapi El Nino 2026
El Nino membuat BMKG mengimbau masyarakat agar segera menghemat air dan bersiap menghadapi musim kemarau yang lebih panjang, kata BMKG pada 20 Juni 2026. El Nino diperkirakan menurunkan curah hujan di banyak wilayah Indonesia dan meningkatkan risiko kebakaran hutan serta kekeringan.

Dampak utama dan periode prediksi

BMKG memperkirakan curah hujan berkurang terutama pada periode Juni hingga November 2026. Dampak lanjutan termasuk kekeringan, peningkatan potensi karhutla, dan penurunan level waduk yang dapat mengganggu operasional PLTA.
"El Nino yang terjadi bersamaan dengan musim kemarau dapat menyebabkan musim kemarau di Indonesia menjadi lebih kering dan lebih panjang dibanding rata-ratanya. Dampak yang perlu diwaspadai adalah bencana hidrometeorologi kering, yaitu kekeringan dan karhutla,"

Wilayah yang berisiko

Dampak El Nino tidak merata di seluruh negeri. BMKG menyebut sejumlah wilayah berisiko curah hujan jauh di bawah normal pada Agustus-Oktober. Daerah tersebut meliputi:

  • Sumatra bagian selatan
  • Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara
  • Kalimantan bagian selatan
  • Sebagian besar Sulawesi dan Maluku
  • Sebagian Papua

Rekomendasi mitigasi untuk pemerintah dan masyarakat

BMKG meminta langkah mitigasi segera diambil oleh pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat. Prioritas yang disarankan meliputi penghematan air, pemeliharaan waduk, dan kesiagaan penanganan karhutla.

"Dalam skala yang lebih luas, pemerintah baik pusat maupun daerah perlu memastikan embung atau waduk tetap terisi air dan irigasi teknis berfungsi dengan baik. Selain itu, langkah lain yang dilakukan adalah memperbanyak sumur dan pompa air," kata Supari.

Untuk sektor pertanian, BMKG menyarankan pemilihan komoditas tahan kekeringan pada musim tanam ketiga dan penyediaan pompa air oleh pemerintah daerah. Di sisi kebencanaan, kesiagaan terhadap karhutla menjadi prioritas utama.

Peluang dan implikasi

Meski berisiko, kondisi kemarau yang lebih kering juga membuka peluang untuk meningkatkan produksi tebu dan tambak garam. Namun, peluang ini harus diseimbangkan dengan upaya pengamanan pasokan air dan perlindungan lahan produktif agar dampak El Nino tidak merusak ketahanan pangan.

BMKG menyampaikan El Nino 2026 saat ini aktif dan diprediksi berlangsung hingga awal 2027. Pemerintah dan masyarakat diminta bersinergi untuk mitigasi, pengelolaan sumber daya air, serta kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait