18 Juni: Sejarah dan Makna Hari Gastronomi Berkelanjutan
18 Juni diperingati sebagai Hari Gastronomi Berkelanjutan Sedunia, peringatan yang ditetapkan PBB untuk mendorong cara memilih, mengolah, dan mengonsumsi makanan secara bertanggung jawab. Peringatan ini mengajak masyarakat mendukung konsumsi lokal, mengurangi limbah pangan, dan melindungi warisan kuliner. Inisiatif ini relevan bagi petani, nelayan skala kecil, pelaku usaha kuliner, serta konsumen sehari-hari.
Apa itu gastronomi berkelanjutan?
Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), gastronomi adalah ekspresi budaya yang lahir dari keberagaman alam dan tradisi masyarakat. Sedangkan keberlanjutan menekankan pemanfaatan sumber daya tanpa merusak lingkungan bagi generasi mendatang.
Gastronomi berkelanjutan menggabungkan kedua konsep: bukan sekadar cita rasa, tetapi juga asal bahan, proses produksi, hingga distribusi.
Manfaat konsumsi produk lokal
Konsumsi produk lokal memperkuat ekonomi masyarakat setempat. Produk lokal biasanya memerlukan jalur distribusi lebih pendek, sehingga mengurangi emisi karbon dari transportasi pangan.
Selain manfaat ekonomi, konsumsi bahan lokal membantu melestarikan resep tradisional dan bahan khas daerah. Dukungan konsumen membuat usaha petani dan nelayan skala kecil menjadi lebih berkelanjutan.
Tantangan: limbah pangan dan kebutuhan masa depan
FAO mencatat dua tantangan utama. Pertama, jumlah penduduk global yang diperkirakan meningkat hingga lebih dari sembilan miliar jiwa. Kedua, sekitar sepertiga makanan yang diproduksi dunia masih hilang atau terbuang. Kondisi ini mengancam ketahanan pangan global.
Oleh karena itu, pengurangan limbah menjadi bagian penting dari gastronomi berkelanjutan. Upaya ini perlu dilakukan di setiap tahap rantai pangan, dari produksi hingga konsumsi.
Langkah praktis mendukung gastronomi berkelanjutan
Langkah sederhana dari konsumen dapat memberi dampak besar. Beberapa tindakan yang dianjurkan antara lain:
- Mengatur porsi makan sesuai kebutuhan untuk mengurangi sisa makanan.
- Memanfaatkan kembali sisa makanan yang masih layak konsumsi.
- Mendukung produk lokal dan usaha pangan skala kecil.
Selain tindakan individu, dukungan kebijakan dan praktik usaha juga penting untuk memperpendek jalur distribusi dan mendorong produksi ramah lingkungan.
Pesan penutup
Hari Gastronomi Berkelanjutan Sedunia mengingatkan bahwa setiap hidangan terkait erat dengan budaya, lingkungan, ekonomi, dan masa depan pangan. Dengan memilih makanan lebih bijak, masyarakat turut berkontribusi pada keberlanjutan sistem pangan global.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Sandri Apresiasi Respons Cepat Polri Tangani Gempa NTT
Sandri memuji respons cepat Polri setelah gempa magnitudo 7,7 di NTT; 845 personel dan logistik dikerahkan u...
Granat Tangan Diduga Buatan Inggris Ditemukan di Bekasi
Granat tangan diduga buatan Inggris ditemukan di Bekasi pada 17 Agustus 2026; tim jibom evakuasi ke Markas G...
Kemendag Salurkan Rp250 Juta untuk Korban Gempa NTT
Kemendag menyalurkan Rp250 juta melalui program "Kemendag Peduli" sebagai bantuan awal untuk korban gempa NT...
Xi Jinping Sampaikan Duka atas Gempa Magnitudo 7,7 di NTT
Xi Jinping menyampaikan duka atas gempa magnitudo 7,7 di NTT (15 Agustus 2026) dan yakin Indonesia dapat pul...
Xi Jinping Berduka atas Gempa Magnitudo 7,7 di NTT
Xi Jinping menyampaikan duka atas gempa magnitudo 7,7 di NTT dan yakin Indonesia dapat cepat pulih. BMKG cat...
Pengungsi Gempa Flores Tersebar, Pemerintah Perkuat Satgas
Pemerintah bentuk satgas daerah dan kirim tenda, logistik, serta tenaga medis untuk memenuhi kebutuhan pengu...