Nasional

BPS: Harga Cabai Rawit Turun 6,99% Namun Masih Di Atas HAP

Bagikan:
Pasar dengan tumpukan cabai rawit segar menunjukkan harga fluktuatif antarwilayah

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan harga cabai rawit nasional pada minggu ketiga Mei 2026 mengalami penurunan tetapi masih berada di atas Harga Acuan Penjualan (HAP). Rata-rata harga kini tercatat Rp63.591/kg, turun 6,99 persen dibanding April 2026, namun tetap di atas batas atas HAP sebesar Rp57.000/kg.

Perkembangan harga dan cakupan wilayah

Penurunan harga terlihat secara nasional, namun peningkatan harga masih terjadi di sejumlah daerah. BPS mencatat 46,67 persen wilayah Indonesia mengalami kenaikan harga cabai rawit. Hingga minggu ketiga Mei, 130 kabupaten/kota mencatat kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH).

"Harga cabai rawit pada minggu ketiga Mei juga sudah berada di atas HAP,"

Daerah dengan kenaikan tertinggi

Beberapa kabupaten mencatat lonjakan IPH yang signifikan. Kabupaten Serdang Bedagai melaporkan kenaikan IPH tertinggi sebesar 48,80 persen. Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur juga mencatat kenaikan tinggi, yaitu 47,29 persen, dengan harga mencapai Rp62.538/kg atau 9,72 persen di atas HAP.

Kenaikan lain tercatat di Kabupaten Jombang (+32,18 persen) dan Kabupaten Mojokerto (+26,44 persen).

Harga tertinggi dan terendah

BPS mencatat variasi harga yang besar antarwilayah. Harga tertinggi berada di Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, mencapai Rp200.000/kg. Sebaliknya, harga terendah tercatat di Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatra Utara, yaitu Rp23.769/kg.

Produksi, kebutuhan, dan neraca

Kementerian Pertanian (Kementan) memperkirakan produksi cabai rawit nasional pada Mei 2026 mencapai 142.581 ton, sementara kebutuhan nasional sebesar 100.552 ton. Dengan demikian neraca menunjukkan surplus nasional.

Komponen Jumlah (ton)
Produksi nasional 142.581
Kebutuhan nasional 100.552
Surplus nasional 42.029
Surplus Pulau Jawa 44.603
Defisit Kalimantan -782
Defisit Maluku & Papua -1.363

Sentra produksi dan pasokan

Kementan menyebut sejumlah daerah penghasil masih memasok kebutuhan nasional. Di antaranya:

  • Sukabumi
  • Cianjur
  • Bandung
  • Garut
  • Wonosobo
  • Lombok Timur

"Sedangkan cabe rawit merah, sesuai dengan informasi tadi dari Ibu Deputi, ada cabe rawit merah dari 107 kabupaten menjadi 130, meskipun alhamdulilah trennya sekarang sudah mengalami penurunan 6,99 persen dari minggu sebelumnya,"

Dampak dan prospek

Meskipun produksi nasional menunjukkan surplus, tekanan harga tetap muncul karena distribusi dan dinamika di tingkat kabupaten/kota. Penurunan harga nasional dapat menahan laju inflasi pangan, tetapi masih perlu pengawasan agar harga turun mendekati atau di bawah HAP di lebih banyak wilayah.

Pemantauan berkelanjutan dari pemerintah daerah dan perbaikan logistik dianggap kunci untuk menurunkan disparitas harga antarwilayah.

J
Penulis
John Doe

No bio yet 😊

Berita Terkait