Festival Anak Pancasila Perkuat Karakter Generasi Muda
Yayasan Rumah Anak Pancasila menyelenggarakan Festival Anak Pancasila pada Minggu, 21 Juni 2026. Acara ini digelar untuk membumikan nilai Pancasila dan memperkuat karakter anak sejak dini melalui seni, budaya, dan pengalaman kebangsaan.
Ragam kegiatan dan tujuan
Festival menampilkan berbagai kegiatan seni budaya, seperti tari dan teater, yang dirancang untuk menumbuhkan semangat gotong royong dan rasa kebersamaan. Selain pertunjukan, acara menghadirkan ruang interaksi bagi anak-anak untuk memahami keberagaman dan mengembangkan kreativitas.
Kegiatan ini bukan sekadar hiburan. Penyelenggara menekankan bahwa pengalaman budaya dapat menjadi media efektif untuk internalisasi nilai-nilai Pancasila pada anak-anak.
Pesan penyelenggara
Ketua Yayasan Rumah Anak Pancasila, Juan Alexander Wake, mengingatkan bahwa Pancasila harus dipraktikkan, bukan hanya diajarkan sebagai teori. Ia menilai bangsa menghadapi tantangan bila generasi muda tidak memahami akar kebangsaannya.
"Pancasila bukan hanya sebuah narasi atau literatur. Pancasila adalah lima perasaan yang hidup dalam jiwa bangsa Indonesia, yang mempersatukan kita dalam Persaudaraan, Persatuan, Kebersamaan, Kepedulian, dan Rasa Syukur yang mendalam,"
Juan menambahkan bahwa masih banyak anak yang belum memahami sejarah bangsa, para pahlawan, maupun makna Pancasila itu sendiri. Festival hadir untuk memberi pengalaman budaya yang memuat unsur nilai-nilai Pancasila serta membangun karakter lewat sejarah dan kesenian.
Metode pendidikan karakter
Yayasan menegaskan pembentukan karakter tidak cukup hanya di ruang kelas. Anak-anak membutuhkan ruang interaksi yang bhinneka serta keteladanan dari keluarga dan komunitas.
Oleh karena itu, penyelenggara mengajak sekolah, orang tua, dan komunitas untuk menciptakan lingkungan yang mendukung agar anak sadar akan identitas kepancasilaan mereka. Program-program internalisasi nilai Pancasila disusun mengacu pada pidato Bung Karno tanggal 1 Juni 1945.
Implikasi dan langkah ke depan
Festival ini menunjukkan pendekatan pengalaman budaya sebagai salah satu strategi pendidikan karakter. Jika berkelanjutan, model semacam ini berpotensi menumbuhkan generasi yang lebih memahami nilai kebangsaan dan kecintaan pada budaya Indonesia.
Yayasan berharap kegiatan serupa dapat direplikasi oleh lebih banyak pihak untuk memperluas jangkauan pesan kepancasilaan kepada anak-anak di berbagai daerah.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Wapres Dukung Keberlanjutan Pembangunan Rumah Ibadah di Asmat
Wapres Gibran meninjau Gereja Katedral Salib Suci Baru di Agats, Asmat, mendukung kelanjutan pembangunan rum...
Wapres Kunjungi Museum Asmat, Tegaskan Komitmen Pelestarian Budaya
Wapres Gibran mengunjungi Museum Asmat pada 21 Juni 2026, menegaskan komitmen pelestarian budaya dan memanta...
Menteri PU bangun huntara Sigi dan perbaiki infrastruktur
Menteri PU menyatakan kesiapan membangun huntara dan memperbaiki infrastruktur di Sigi pascagempa, namun tin...
Sepuluh Ruas Tol Baru Siap Dukung Nataru 2026
Kementerian PU menargetkan 10 ruas tol baru sepanjang 201,12 km rampung menjelang Nataru 2026 untuk memperla...
Seabad Jam Gadang, Menbud Fadli Zon: Bukan Sekadar Penanda Waktu
Jam Gadang diperingati seratus tahun di Bukittinggi (20 Juni 2026). Menbud Fadli Zon menilai ikon ini bukan...
Program Makan Bergizi Gratis: APPMBGI Serukan Jangan Dipolitisasi
APPMBGI meminta agar Program Makan Bergizi Gratis tidak dipolitisasi dan mendorong dialog intensif dengan BG...