DPR Dukung Operasional PT DSI untuk Perkuat Tata Kelola Ekspor
Anggota Komisi VI DPR RI Firnando Ganinduto menyatakan dukungan terhadap operasional PT Danantara Sumberdaya Indonesia (PT DSI) yang mulai berjalan pada 1 Juni 2026. Dukungan itu diberikan sebagai upaya memperkuat tata kelola ekspor sumber daya alam (SDA), meningkatkan transparansi perdagangan, dan mengoptimalkan penerimaan negara.
Tujuan dan integrasi sistem
Menurut Firnando, kebijakan PT DSI merupakan bagian dari reformasi pengelolaan ekspor nasional. Seluruh pelaporan ekspor SDA akan terintegrasi dengan sistem Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Langkah ini dimaksudkan untuk memperkuat pengawasan dan pengelolaan devisa hasil ekspor.
"Kebijakan ini diarahkan untuk meningkatkan transparansi perdagangan, memperkuat pengawasan arus ekspor, mengoptimalkan pengelolaan devisa hasil ekspor. Serta meminimalkan berbagai praktik yang berpotensi merugikan negara,"
Komoditas awal yang diawasi
Pada tahap awal, PT DSI mengawasi tiga komoditas strategis: batu bara, minyak sawit mentah (CPO), dan ferro alloy. Ketiga komoditas itu tercatat menyumbang nilai ekspor besar sepanjang 2025.
- Batu bara
- Minyak sawit mentah (CPO)
- Ferro alloy
| Indikator | Nilai 2025 |
|---|---|
| Total nilai ekspor tiga komoditas | 66,13 miliar dolar AS (sekitar 23,4% dari total ekspor nasional) |
Syarat implementasi tanpa menambah birokrasi
Firnando mengingatkan agar implementasi PT DSI tidak menambah lapisan birokrasi baru. Ia menekankan proses bisnis harus disederhanakan dan tidak menghambat kegiatan ekspor atau membebani pelaku usaha.
"Implementasi PT DSI harus mampu menyederhanakan proses bisnis dan tidak justru menimbulkan lapisan birokrasi baru. Ini yang dapat menghambat kelancaran kegiatan ekspor,"
Sinergi antar lembaga dan pengawasan lapangan
Ia meminta adanya sinergi antara Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, aparat penegak hukum, pemerintah daerah, perbankan, dan PT DSI. Kolaborasi ini dinilai krusial untuk membangun sistem pengawasan rantai distribusi dan memastikan kepatuhan terhadap aturan.
Firnando menilai keberhasilan kebijakan sangat bergantung pada efektivitas pengawasan di lapangan. Pengawasan itu termasuk pencegahan ekspor ilegal dan verifikasi bahwa seluruh aktivitas ekspor sesuai ketentuan yang berlaku.
"Keberhasilan PT DSI harus tercermin dari peningkatan penerimaan negara, penguatan cadangan devisa, serta terciptanya sistem ekspor yang lebih transparan dan memberikan manfaat nyata bagi perekonomian nasional,"
Komisi VI DPR RI akan terus mengawal kinerja PT DSI agar menjalankan mandat secara profesional, transparan, dan akuntabel. Tujuannya memastikan manfaat kebijakan terasa nyata bagi keuangan negara dan kedaulatan ekonomi nasional.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Kemenbud Usulkan Tari Zapin ke UNESCO untuk Perkuat Pelestarian
Kementerian Kebudayaan mengusulkan Tari Zapin ke UNESCO (29 Sept 2026) untuk memperkuat pelestarian lintas g...
Korlantas Buka Layanan Blokir ETLE di Samsat Seluruh Indonesia
Korlantas membuka layanan pengurusan blokir ETLE langsung di Samsat mulai 30 September 2026 untuk memudahkan...
STNK Digital Resmi Berlaku, Pengendara Tak Perlu Bawa STNK Fisik
Korlantas luncurkan STNK Digital lewat aplikasi Digital Korlantas; dokumen elektronik ini setara hukum denga...
Basarnas Alihkan Pencarian Jurnalis ke Operasi SAR Rutin
Basarnas tetap melanjutkan pencarian lima jurnalis lewat operasi SAR rutin; pencarian berlangsung 24 jam ses...
Wamensos Dorong Pembangunan Sekolah Rakyat di Pekalongan
Wamensos mendorong percepatan pembangunan Sekolah Rakyat di Pekalongan; Pemkab sediakan lahan 8,1 ha untuk m...
Menko Pangan Tawarkan Insentif Karbon untuk Investor Hijau
Menko Pangan Zulkifli Hasan tawarkan insentif pasar karbon untuk tarik investasi hijau di sektor pangan, sam...