Din Syamsuddin: Sukarno Tokoh Muslim dan Nasionalis
Din Syamsuddin menyatakan Presiden pertama RI, Sukarno, adalah sosok Muslim dan nasionalis saat memberikan ceramah pada haul ke-56 Bung Karno di Lenteng Agung, Jakarta, Minggu 21 Juni 2026. Pernyataan itu disampaikan di hadapan ratusan jemaah dan tokoh politik dalam acara yang diprakarsai sayap keagamaan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Inti pernyataan
Din, yang pernah memimpin Muhammadiyah dan kini guru besar Politik Islam Global di UIN Jakarta, menegaskan bahwa gagasan kebangsaan Sukarno selaras dengan nilai-nilai Islam. Menurutnya, penekanan Bung Karno pada Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menunjukkan keselarasan tersebut.
"Menurut Bung Karno, cita-cita kebangsaan Indonesia selaras dengan nilai-nilai Islam. Sebagai Penggali Pancasila, Bung Karno sangat menekankan posisi sentral Sila Ketuhanan Yang Maha Esa terhadap sila-sila lain.
Itulah yang menjadi salah satu alasan mengapa Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) pada 3 Agustus 1965 menganugerahi Bung Karno Gelar Doktor Honoris Causa dalam Bidang Filsafat Ilmu Tauhid," kata Din Syamsuddin.
Hadirin dan penyelenggara
Acara dihadiri ratusan jemaah serta sejumlah politisi nasional. Ahmad Basarah hadir mewakili Megawati Sukarnoputri. Ketua panitia Gus Falah bersama sekretaris Helmi Hidayat memimpin jalannya seluruh rangkaian kegiatan.
Jejak pemikiran Sukarno
Din mengutip sejumlah karya dan tulisan Sukarno untuk mendukung pandangannya. Artikel tahun 1924 dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi disebut memuat pemikiran mendalam yang senada dengan gagasan Kiai Haji Ahmad Dahlan. Selain itu, Sukarno menulis Islam Sontoloyo pada 1940 sebagai kritik terhadap pendekatan keagamaan yang dogmatis dan tafsir literal terhadap Al-Qur'an.
Trisakti dan pesan politik
Dalam ceramahnya, Din juga mengulas konsep Trisakti Bung Karno, yang menurutnya meliputi tiga aspek penting:
- Berdaulat dalam bidang politik
- Mandiri secara ekonomi
- Berkepribadian dalam budaya
Din mengingatkan agar partai politik tidak menjauh dari umat Islam di tanah air dan menegaskan peran lembaga keagamaan sebagai kelanjutan tradisi politik Islam sejak era Partai Nasional Indonesia. Ia juga menyinggung keterlibatannya dalam pendirian Baitul Muslimin Indonesia bersama almarhum Taufik Kiemas dan pengabdiannya sebagai wakil ketua Dewan Pembina Bamusi saat mendampingi Megawati.
Jalannya haul
Rangkaian acara dimulai selepas salat magrib dengan tahlilan, diikuti pembacaan doa untuk Bung Karno, dan ditutup dengan salat isya berjamaah. Seluruh kegiatan berlangsung khidmat dan dihadiri oleh berbagai unsur masyarakat serta tokoh politik.
Penekanan Din pada keselarasan antara pemikiran kebangsaan Sukarno dan nilai-nilai Islam membuka ruang diskusi lebih luas tentang warisan ideologis proklamator bagi politik keagamaan kontemporer di Indonesia.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Kemenkeu Pastikan Pembiayaan Awal DDMF Tak Gunakan APBN
Kemenkeu memastikan modal awal DDMF tidak menggunakan APBN; instrumen ini akan biayai proyek strategis lewat...
UKWR RRI 2026: Jurnalis RRI Jakarta Harap Lulus dengan Nilai Memuaskan
Peserta UKWR RRI di Jakarta berharap lulus kompeten; ujian 19-20 Agustus 2026 diikuti 71 peserta.
Wamendikdasmen Tekankan Motivasi dan Pendampingan PJJ di Gorontalo
Wamendikdasmen tinjau PJJ di SMAN 1 Gorontalo, menekankan motivasi, pendampingan keluarga, dan pertemuan lur...
RRI Siapkan Jurnalis Hadapi Migrasi Audiens lewat UKWR ke-54
RRI gelar UKWR ke-54 (19-20 Agustus 2026) untuk meningkatkan kompetensi jurnalis dan menanggapi migrasi audi...
Wamendikdasmen Tinjau PJJ di Gorontalo: Pastikan Anak Tetap Belajar
Wamendikdasmen tinjau PJJ di Gorontalo untuk memastikan anak ATS mendapat pendampingan, motivasi, dan layana...
Gempa M7,7 Guncang NTT: Empat Pasar Rusak dan Rantai Pasok Terganggu
Gempa M7,7 di NTT pada 15 Agustus 2026 merusak empat pasar, termasuk Pasar Inpres Ruteng, dan mengganggu ran...