BPS: Data Akurat Kunci Memaksimalkan Bonus Demografi Jawa-Bali
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti
Data dan angka: skala Jawa-Bali
Amalia menyampaikan bahwa wilayah Jawa-Bali didiami sekitar 162,87 juta penduduk. Angka ini setara sekitar 57,22 persen dari total populasi Indonesia. Menurutnya, besaran populasi tersebut menjadi peluang sekaligus tantangan pembangunan.
Ia menegaskan bahwa tanpa pengelolaan yang tepat, bonus demografi tidak otomatis memberi manfaat bagi negara. Oleh karena itu, data yang akurat harus menjadi dasar perencanaan dan kebijakan.
Bonus demografi tidak otomatis menjadi bonus apabila kita gagal mengelolanya dengan benar. Karena itu, data yang akurat menjadi sangat penting untuk mendukung pengambilan kebijakan yang tepat
Peningkatan kualitas SDM dan lapangan kerja
Amalia mengajak kepala daerah untuk memperkuat pemanfaatan data dalam perencanaan pembangunan. Ia menilai peningkatan kualitas sumber daya manusia harus menjadi perhatian utama.
Selain itu, penciptaan lapangan kerja juga disebutnya penting untuk memaksimalkan manfaat demografi. BPS terus mendorong sinergi dengan pemerintah daerah agar data yang dihasilkan lebih relevan dan mudah diakses.
Peran Forkopimda untuk stabilitas daerah
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyoroti aspek berbeda namun saling terkait: stabilitas politik dan keamanan. Ia menyatakan kondisi ini merupakan syarat awal bagi keberhasilan pembangunan di daerah.
Tito menyebut kawasan Jawa-Bali sangat strategis sebagai pusat pemerintahan, ekonomi, dan konsentrasi penduduk terbesar di Indonesia. Karena itu, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah perlu terus diaktifkan untuk menjaga kondusivitas.
Setiap daerah yang mampu menjaga stabilitas politik dan keamanan akan membuka peluang lebih besar bagi keberhasilan pembangunan. Karena itu Forkopimda harus diaktifkan
Menurut Tito, Forkopimda yang solid dapat mendeteksi potensi konflik lebih cepat, memperkuat pengawasan pemerintahan, dan membantu pencegahan korupsi. Ia juga mendorong pengaktifan Forum Kerukunan Umat Beragama dan Tim Terpadu Penanganan Konflik Sosial di tingkat daerah.
Kesimpulan dan implikasi
Secara ringkas, kedua pemimpin tersebut sepakat bahwa memaksimalkan bonus demografi Jawa-Bali membutuhkan kombinasi data berkualitas, peningkatan SDM, penciptaan lapangan kerja, serta stabilitas politik dan keamanan. Implementasi kebijakan berbasis data menjadi langkah krusial agar demografi yang menguntungkan dapat diubah menjadi pembangunan yang nyata dan berkelanjutan.
Berita Terkait
Prabowo Lantik Nanik S Deyang sebagai Kepala BGN 8 Juni 2026
Presiden Prabowo akan melantik Nanik S Deyang sebagai Kepala BGN pada 8 Juni 2026, menggantikan Dadan setela...
Mendagri Minta Forkopimda Perkuat Soliditas untuk Stabilitas Daerah
Mendagri Tito Karnavian meminta Forkopimda perkuat komunikasi dan soliditas di Jawa-Bali pada 4 Juni 2026 un...
Java Man Segera Dipulangkan, Menbud: Sudah Masuk Tahap Pengemasan
Koleksi Java Man sedang dikemas dan akan dipulangkan dalam beberapa bulan; pemerintah menargetkan penempatan...
Wapres Gibran: Calon Pemimpin Harus Peka pada Masyarakat
Wapres Gibran minta calon pemimpin peka dan aktif berdialog dengan masyarakat; contoh hambatan distribusi pu...
Jadwal & Aturan OSN 2026: Kategori AI dan Kuota Finalis
Kemendikdasmen merilis jadwal OSN 2026 dengan kategori baru SMA termasuk AI dan pengawasan diperketat; final...
Pendaftar OSN 2026 Lampaui 941.692, Naik 17% dari 2025
Pendaftar OSN 2026 mencapai 941.692 peserta, naik 17% dari 2025; penyelenggara menekankan integritas, pemera...