Kebutuhan Cold Storage Meningkat, Peluang Bisnis Besar di RI
Permintaan fasilitas cold storage di Indonesia meningkat pesat, membuka peluang bisnis signifikan hingga 2030. Pertumbuhan didorong oleh kenaikan kebutuhan makanan beku dan produk segar, ekspansi e-commerce, dan pertumbuhan industri farmasi serta vaksin.
Kenaikan permintaan dan prospek pasar
Berdasarkan Research and Markets 2024, pasar cold storage Indonesia diperkirakan tumbuh dengan CAGR 11,5% hingga 2030. Indonesia juga diprediksi menjadi salah satu pasar cold storage paling prospektif di Asia Tenggara pada 2025. Faktor pendorong utama meliputi peningkatan konsumsi makanan beku, perluasan ritel modern, serta kebutuhan rantai dingin untuk obat dan vaksin.
Kesenjangan kapasitas nasional
Saat ini kebutuhan cold storage nasional diperkirakan mencapai lebih dari 5 juta meter kubik, sementara total kapasitas yang tersedia baru sekitar 3 juta meter kubik. Artinya terdapat kekurangan sekitar 40% yang belum terpenuhi, membuka ruang investasi dan ekspansi layanan.
| Aspek | Volume (m³) |
|---|---|
| Kebutuhan nasional | Lebih dari 5.000.000 |
| Kapabilitas saat ini | ~3.000.000 |
| Gap pasar | ~40% |
Fungsi cold storage dan produk unggulan
Cold storage adalah fasilitas penyimpanan berpendingin yang menjaga suhu stabil untuk memperpanjang masa simpan dan mencegah pembusukan. Fungsi ini penting untuk rantai pasok makanan, minuman, dan produk kesehatan.
Beberapa produk yang umumnya memerlukan cold storage antara lain:
- Daging, ikan, dan hasil laut
- Sayuran dan buah segar
- Produk susu dan minuman
- Obat-obatan, vaksin, dan bahan kimia tertentu
Dengan penggunaan cold storage yang tepat, tingkat kerusakan buah, sayur, dan bahan makanan segar dapat ditekan dari sekitar 35% menjadi 10–15%.
Peluang bisnis dan implikasi
Kesenjangan kapasitas membuka peluang bagi investor, pelaku logistik, dan ritel untuk membangun fasilitas baru atau memperluas jaringan distribusi dingin. Selain keuntungan komersial, peningkatan kapasitas cold storage mendukung program ketahanan pangan dan efektivitas distribusi vaksin.
Ke depan, kebutuhan investasi infrastruktur, standar operasional untuk rantai dingin, dan integrasi dengan e-commerce akan menentukan kecepatan pemenuhan gap pasar. Jika direspons cepat, sektor ini berpotensi mendorong efisiensi pasokan dan mengurangi kerugian pangan secara signifikan.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Harga Emas Pegadaian Naik Rp26.000, Galeri24 & UBS
Harga emas Galeri24 dan UBS di Pegadaian naik Rp26.000 per gram pada 27 Juni 2026; Galeri24 Rp2.638.000, UBS...
Harga Emas Antam Naik Rp5.000 per Gram, 27 Juni 2026
Harga emas Antam naik Rp5.000/gram pada 27 Juni 2026; harga 1 gram menjadi Rp2.660.000 dan buyback Rp2.378.0...
Menkeu: Pembeli Patriot & Merah Putih Bond Tak Kebal Hukum
Menkeu Purbaya menegaskan perlindungan untuk pembeli Patriot dan Merah Putih Bond hanya berlaku pada dana ya...
KAI Sediakan 250.519 Tiket Diskon untuk Libur Sekolah
KAI masih menyediakan 250.519 tiket diskon 30% selama libur sekolah; 78,67% kursi sudah dipesan dari total k...
3.006 Penumpang Melintasi Stasiun Pasarnguter, Dampak ke Ekonomi Lokal
Stasiun Pasarnguter di Sukoharjo melayani 3.006 penumpang pada 26 Juni 2026, memperkuat konektivitas dan eko...
Roadmap Percepatan Gas Bumi untuk Kedaulatan Energi
IAPMIGAS luncurkan roadmap percepatan gas bumi untuk kedaulatan energi, fokus pada infrastruktur, tata kelol...