BPOM: Jejak Pengobatan Nusantara Terpantau Sejak 31.000 Tahun Lalu
Kepala BPOM Taruna Ikrar memaparkan bukti sejarah panjang pengobatan di Nusantara, termasuk temuan arkeologi amputasi sekitar 31.000 tahun lalu di Kalimantan Timur. Pernyataan itu disampaikan dalam Dialog Kebangsaan "Rakyat Sehat, Negara Kuat" di Jakarta, Jumat, 11 September 2026. Taruna menilai temuan ini menunjukkan praktik medis dan penggunaan herbal sejak masa prasejarah.
Temuan arkeologi di Kalimantan Timur
Taruna merujuk laporan yang dimuat di Journal Nature mengenai temuan rekaman amputasi purba. Ia mengatakan individu yang mengalami amputasi tersebut diketahui bertahan hidup sekitar sembilan tahun setelah tindakan medis itu.
Taruna Ikrar: "Menurut laporan Journal Nature tadi, di Kalimantan Timur ada seorang yang dilakukan surgery amputation 31.000 tahun yang lalu."
Menurutnya, kelangsungan hidup orang itu menunjukkan prosedur yang berhasil dan bukan sekadar penanganan sederhana.
Herbal sebagai bagian praktik pengobatan kuno
Taruna mempertanyakan bagaimana rasa sakit ditangani pada masa itu. Ia mengaitkan keberhasilan prosedur dengan pemanfaatan tanaman obat tradisional.
"Ternyata dari hasil penemuan itu, jawabannya adalah dia menggunakan yang kita sebut dengan herbal. Berdasarkan penggunaan herbal itulah maka ternyata sukses semuanya," ujar Taruna.
Ia juga menyatakan bahwa keberadaan sosok tabib atau praktisi medis sudah ada pada masa tersebut, yang menurutnya menunjukkan akar panjang ilmu pengobatan di wilayah ini.
Potensi hayati Indonesia dan arah pengembangan
Taruna menyoroti hubungan temuan arkeologi dengan kekayaan hayati Indonesia. Ia menyebut negara ini memiliki lebih dari 30 ribu sumber daya hayati yang potensial dikembangkan menjadi obat herbal.
Menurutnya, pemanfaatan warisan tradisi ini harus dilanjutkan dengan pendekatan ilmiah agar tidak sekadar menjadi catatan sejarah. Pengembangan berbasis penelitian dinilai perlu untuk meningkatkan manfaat kesehatan dan memberi nilai ekonomi bagi masyarakat.
Impak dan langkah ke depan
Temuan ini memberi dasar historis bagi upaya modernisasi pengobatan tradisional. Taruna mendorong pengelolaan sumber daya hayati melalui penelitian dan regulasi agar berkembang menjadi produk herbal yang aman, efektif, dan berdaya saing.
Dengan demikian, jejak pengobatan prasejarah bukan hanya soal warisan budaya. Ia juga membuka peluang riset dan pengembangan obat herbal yang berakar pada praktik lokal selama ribuan tahun.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Pemerintah Siapkan Pusat Rehabilitasi untuk Warga Binaan Narkotika
Pemerintah siapkan pusat rehabilitasi dan reedukasi bagi warga binaan pengguna narkotika untuk atasi overkap...
BMKG Waspadai Hujan Lebat, Petir, Angin Kencang 5-8 Okt
BMKG keluarkan peringatan dini hujan lebat, petir, dan angin kencang pada 5-8 Oktober 2026; waspadai empat w...
Prabowo Pimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap
Presiden Prabowo memimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap, 5 Oktober 2026; melibatkan 3.378 personel...
HUT TNI ke-81: DPR Dorong Modernisasi Hadapi Perang Modern
DPR mendesak modernisasi alutsista dan peningkatan pelatihan TNI menjelang HUT ke-81, seiring anggaran 2027...
Dua Induk Badak Sumatera Bunting di Way Kambas, Harapan Konservasi
Dua induk badak sumatera, Ratu dan Delilah, dinyatakan bunting di Suaka Rhino Sumatra Way Kambas; pemantauan...
Prabowo Minta Bakom Gunakan Bahasa Sederhana dan Dengarkan Rakyat
Presiden Prabowo minta Bakom gunakan bahasa sederhana, jelaskan alasan kebijakan, dan dengarkan masukan masy...