Pusrehab Kemhan Usulkan Hari Herbal Nasional untuk Hidupkan Jamu
Kepala RS Pusat Rehabilitasi Medik Kementerian Pertahanan, Markus Wibowo, mengusulkan penetapan Hari Herbal Nasional atau Hari Jamu Nasional sebagai upaya menghidupkan kembali tradisi jamu dan mendorong pelaku usaha herbal. Usulan itu disampaikan usai Dialog Kebangsaan "Rakyat Sehat, Negara Kuat" di Jakarta, Jumat, 11 September 2026.
Ide Hari Khusus untuk Mengangkat Kembali Budaya Jamu
Markus mengatakan penetapan hari khusus akan menjadi momentum untuk melestarikan warisan kesehatan nenek moyang. Ia mendorong agar gagasan ini segera direkomendasikan ke pemerintah agar dapat diimplementasikan secara nasional.
"Kita akan menjaga marwah dari warisan nenek moyang kita ya. Mungkin hari apa dalam satu minggu itu agar terjadi Hari Herbal Nasional atau Hari Jamu Nasional,"
Dampak Ekonomi dan Contoh Batik
Selain aspek budaya dan kesehatan, Markus menilai kebijakan tersebut berpotensi menggerakkan ekonomi. Ia memberi contoh kebijakan penggunaan batik pada hari tertentu yang berhasil membangkitkan industri batik dan konsumsi produk lokal.
"Artinya dalam satu hari, dalam seminggu satu hari kita tentukan sebagai Hari Herbal. Saya kira dengan endorse ini, dunia usaha juga pasti akan menggeliat ya, pelaku di lapangan,"
"Batik dulu kan seperti itu ditetapkan hari Jumat harus pakai batik, pengusaha batik pasti jalan, rakyat juga yang senang kan? Budaya kita juga tidak mati dan tidak diklaim oleh negara-negara lain,"
Mulai dari Keluarga untuk Ketahanan Kesehatan
Markus menekankan bahwa penguatan kesehatan harus dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga. Menanamkan kebiasaan mengonsumsi herbal sejak dini, menurutnya, dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia di masa depan.
"Kalau dari awal kita tanamkan, 'Oh, ini kesehatan itu penting, salah satunya, kita minum herbal tiap hari,' yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Ini kita harus support mulai dari komunitas paling kecil itu keluarga,"
Ia menambahkan bahwa kesehatan masyarakat berkaitan langsung dengan ketahanan negara, sehingga kebiasaan hidup sehat perlu dipastikan dapat diterapkan secara luas.
Implementasi dan Kolaborasi Daerah
Markus menyatakan Kementerian Pertahanan siap mengawal pengembangan herbal hingga tingkat daerah. Ia berharap penguatan budaya herbal berjalan melalui kolaborasi antar-pemerintah, masyarakat, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan lain.
Jika direalisasikan, penetapan Hari Herbal Nasional bisa menjadi alat promosi budaya, pendorong usaha lokal, dan bagian dari strategi ketahanan kesehatan nasional ke depan.
Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.
Berita Terkait
Transformasi Radio: Dari Tabung Kayu ke Radio di Smartphone
Radio berevolusi dari tabung vakum besar hingga siaran lewat smartphone; perubahan meliputi transistor, FM,...
LMKN Tuntut Netflix Bayar Royalti Musik Rp75 Miliar
LMKN menuntut Netflix membayar sekitar Rp75 miliar royalti musik sejak 2016 dan ancam lapor kementerian hing...
Adaptasi 'Descendants of the Sun' Versi Indonesia Dipimpin Hanung, Rilis 2027
Adaptasi Indonesia dari Descendants of the Sun disutradarai Hanung Bramantyo, dibintangi Reza Rahadian dan D...
Abu Anak Krakatau Tingkatkan Risiko Pernapasan pada Anak, IDAI Imbau
IDAI peringatkan abu Anak Krakatau meningkatkan risiko pernapasan pada anak, terutama yang punya asma; orang...
3,3 Juta Lansia Terancam Abu Vulkanik Anak Krakatau
Sekitar 3,3 juta lansia di Indonesia berisiko terkena dampak kesehatan abu Anak Krakatau; Kemenkes imbau pri...
Ragam Alat Musik Tradisional Sulawesi Barat yang Jarang Dikenal
Sulawesi Barat punya beragam alat musik tradisional dari bambu, kelapa, dan daun yang dulu hibur petani, kin...