Kesehatan

IDAI Usulkan MBG Dimasak dan Disajikan di Kantin Sekolah

Bagikan:

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengusulkan agar Program Makan Gizi Gratis (MBG) dimasak dan disajikan langsung di kantin sekolah. Usulan disampaikan untuk memperketat standar keamanan pangan dan menekan risiko keracunan yang berulang pada pelaksanaan program.

Inti usulan dan alasan

Ketua Umum IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, mengatakan penyajian MBG di kantin membuat makanan lebih hangat, segar, dan sesuai selera anak. Menurutnya, model ini memungkinkan kontrol mutu dan kebersihan saat pengolahan berlangsung di lokasi.

“Standar keamanan pangan harus diterapkan sangat ketat dan tidak boleh ditawar dalam pelaksanaan program MBG. Keamanan makanan anak harus menjadi prioritas utama agar program MBG tidak menimbulkan risiko kesehatan,” kata Piprim Basarah Yanuarso dalam keterangan pers di Jakarta, Sabtu, 12 September 2026.

Model penyajian dan peningkatan konsumsi

IDAI juga menilai penyajian di kantin bisa disesuaikan dengan selera anak, misalnya lewat konsep prasmanan. Pendekatan ini dinilai berpotensi meningkatkan minat siswa untuk mengonsumsi makanan bergizi yang disediakan.

Faktor risiko keracunan dan pencegahan

Anggota UKK Nutrisi dan Penyakit Metabolik IDAI, Damayanti Rusli, menyebut keracunan pangan dapat berasal dari bahan makanan maupun proses pengolahan. Perilaku manusia saat menyiapkan makanan turut berperan meningkatkan risiko.

“Keracunan pangan bisa berasal dari makanan yang dikonsumsi maupun perilaku manusia saat mengolah makanan tersebut. Karena itu, proses pengolahan makanan harus dilakukan secara tepat untuk mencegah terjadinya keracunan pangan,” kata Damayanti Rusli.

Ia menjelaskan bahaya pada makanan dapat berupa paparan kimia maupun biologis. Risiko meningkat ketika terjadi kesalahan penanganan atau pencampuran makanan mentah dan matang.

  • Bahaya biologis: bakteri, jamur, cacing;
  • Bahaya kimia: pestisida dan kontaminan lain;
  • Kesalahan pengolahan: pencampuran bahan mentah dan matang, serta penyimpanan suhu tidak tepat.

Damayanti menekankan bahan makanan harus dicuci bersih dan proses pengolahan mengikuti prosedur higienis untuk menekan kemungkinan kontaminasi.

Data dan kelompok rentan

Mengacu pada data WHO 2015, sekitar satu dari sepuluh orang mengalami keracunan makanan setiap tahun. Anak di bawah lima tahun dan lansia menjadi kelompok yang paling rentan terhadap dampak serius keracunan pangan.

Menurut IDAI, bila MBG masuk kategori 3B (beras, bumbu, makanan basah?), risiko pada kelompok rentan akan meningkat sehingga diperlukan perhatian ekstra.

Rekomendasi dan langkah ke depan

IDAI merekomendasikan agar konsep MBG ditinjau ulang dan dievaluasi secara objektif serta menyeluruh. Evaluasi itu meliputi standar pengolahan, pelatihan petugas kantin, dan mekanisme penyajian yang menjaga kebersihan dan kualitas gizi.

Dengan perubahan ini, diharapkan program MBG tidak hanya meningkatkan asupan gizi siswa, tetapi juga menjadi lebih aman dan dapat diterima anak secara luas.

Putri Anindya
Penulis
Putri Anindya

Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.

Berita Terkait