IDAI: Pertolongan Pertama untuk Keracunan Makanan pada Anak
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)
Risiko utama: kehilangan cairan
Dr. Yogi menekankan bahwa yang paling membahayakan adalah kehilangan cairan akibat muntah dan diare. Pencegahan dehidrasi menjadi langkah utama untuk menghindari kondisi anak memburuk.
Yang membahayakan anak adalah kehilangan cairan, bukan hanya kumannya. Kita bisa beri oralit sedikit-sedikit tapi sering, ASI dan makanan diteruskan, pantau anak berapa kali berkemih
Gejala dan penyebab
Keracunan makanan biasanya muncul setelah mengonsumsi makanan atau air terkontaminasi bakteri, virus, parasit, racun, atau bahan kimia berbahaya. Gejala umum meliputi mual, muntah, nyeri perut, serta tinja cair atau berdarah.
Orang tua juga harus mewaspadai gejala tidak khas seperti demam, sakit kepala, pusing, pandangan kabur, kelemahan anggota gerak, dan kesemutan. Tanda dehidrasi yang sering muncul adalah mulut kering, tubuh lemas, dan penurunan frekuensi buang air kecil.
Langkah pertolongan pertama di rumah
IDAI memberi panduan singkat agar orang tua dapat mengurangi risiko dehidrasi sebelum mendapatkan bantuan medis atau pengamatan lebih lanjut.
- Hentikan sementara makanan yang diduga sebagai sumber keracunan, namun simpan sisa makanan untuk penelusuran lebih lanjut.
- Berikan oralit sedikit demi sedikit tetapi sering untuk mencegah dehidrasi.
- Lanjutkan pemberian ASI dan makanan sesuai kemampuan anak; menghentikan makanan tidak mempercepat penyembuhan.
- Setelah muntah mereda, beri makanan lunak porsi kecil seperti bubur, pisang, atau roti, serta istirahat cukup.
- Pantau frekuensi berkemih dan warna urine sebagai indikator kondisi cairan tubuh anak.
Hal yang dilarang dilakukan di rumah
IDAI mengingatkan beberapa tindakan yang berisiko atau tidak dianjurkan oleh orang tua tanpa arahan tenaga medis.
- Jangan membuat larutan oralit sendiri menggunakan garam karena takaran harus tepat.
- Jangan merangsang anak untuk muntah atau memberikan arang aktif tanpa instruksi medis.
- Hindari memberi obat penghenti diare atau antibiotik atas inisiatif sendiri.
Orang tua sebaiknya tidak membuat larutan oralit sendiri menggunakan garam di rumah karena takarannya harus tepat. Takaran garam yang berlebihan dapat meningkatkan kadar elektrolit dan membahayakan kondisi kesehatan anak
Dengan langkah sederhana ini, IDAI berharap orang tua dapat mengurangi risiko komplikasi akibat keracunan makanan. Pemantauan yang cermat terhadap tanda dehidrasi serta kelanjutan ASI dan pemberian cairan sedikit demi sedikit menjadi kunci penanganan awal di rumah.
Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.
Berita Terkait
Mengenal Ikan Sidat: Omega-3 Tinggi, Potensi Pangan dan Ekonomi
Ikan sidat kaya Omega-3 (DHA & EPA) dan nutrisi lain, berpotensi jadi sumber pangan bergizi sekaligus komodi...
Paparan Panas Ancaman Kulit: Wardah Perkenalkan Sunscreen dengan Heat Defense
Wardah perkenalkan sunscreen dengan teknologi Heat Defense pada acara di Jakarta, 3 Oktober 2026, untuk lind...
Hari Hewan Sedunia: 5 Penyakit Zoonosis yang Perlu Diwaspadai
Pada Hari Hewan Sedunia (4 Okt), kenali 5 penyakit zoonosis utama, cara penularan, dan langkah pencegahannya...
Dinkes Jabar: Influenza Tipe A Mudah Menular dalam Keluarga
Dinkes Jawa Barat ingatkan influenza tipe A mudah menular di keluarga; isolasi mandiri dan pakai masker pent...
Nakes Tangerang Inspeksi Jajanan Sekolah untuk Cegah Pangan Tak Aman
Nakes Tangerang inspeksi jajanan sekolah untuk memastikan kebersihan, keamanan pangan, dan mendukung tumbuh...
Tangerang Waspadai Influenza Tipe A: Dinkes Imbau Orang Tua Waspada
Dinkes Kota Tangerang imbau orang tua waspada terhadap influenza tipe A; Kabupaten Tangerang melaporkan stat...