BPOM Dorong Peralihan ke Pencegahan dalam Sistem Kesehatan
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Taruna Ikrar, menyerukan pergeseran paradigma kesehatan nasional dari pengobatan menuju pencegahan. Pernyataan itu disampaikan dalam Dialog Kebangsaan "Rakyat Sehat, Negara Kuat" di Jakarta, Jumat, 11 September 2026, dengan alasan utama soal beban biaya kuratif yang sangat tinggi.
Fokus pada promotif dan preventif
Taruna menegaskan bahwa ketahanan kesehatan idealnya meliputi empat pendekatan: promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Ia meminta dua pendekatan pertama mendapat porsi lebih besar dalam kebijakan dan program kesehatan.
"Kalau sudah masuk yang namanya kuratif sampai masuk kepada rehabilitasi, itu biayanya mahal sekali. Mahal sekali,"
Menurut Taruna, jika negara terus mengutamakan kuratif dan rehabilitatif, anggaran kesehatan akan semakin terbebani. Oleh sebab itu, promosi hidup sehat dan tindakan pencegahan perlu dikedepankan untuk menahan laju penyakit sejak awal.
Strategi promosi kesehatan yang ditekankan
Taruna mengajak penguatan promosi kesehatan melalui edukasi pola hidup sehat dan peningkatan kesadaran masyarakat. Ia menilai masyarakat perlu didorong untuk menjaga kesehatan sebelum gejala penyakit muncul.
"Jadi kita harus geser ke promotif, mempromosikan cara hidup sehat. Bergeser mempromosikan atau pencegahan,"
Pesan ini mengarah pada peralihan prioritas program publik, dari biaya tinggi pengobatan akut ke investasi pencegahan yang lebih hemat dan berkelanjutan.
Peran sumber daya alam dan jamu
Taruna juga menyebut kekayaan tanaman obat Indonesia sebagai bagian dari pendekatan promotif dan preventif. Ia memberi contoh kunyit yang mengandung kurkumin dan berpotensi sebagai agen anti-inflamasi.
"Di hadapan kita di sini sudah banyak jamu, saya lihat, salah satunya tadi yang disebut misalnya kunyit. Kunyit itu kurkuma, itu salah satu pengobatan anti-inflamasi yang cukup dan sangat baik dengan penggunaan hanya kunyit,"
Meski mendorong pemanfaatan herbal, Taruna menekankan pentingnya pengembangan berbasis ilmu agar manfaat sumber daya alam dapat diandalkan dan aman untuk masyarakat.
Implikasi kebijakan dan langkah ke depan
Seruan BPOM ini membuka ruang bagi pembuat kebijakan untuk meninjau alokasi anggaran kesehatan dan memperkuat program pencegahan. Perubahan fokus ke promotif dan preventif diharapkan mengurangi beban biaya kuratif dan meningkatkan ketahanan kesehatan masyarakat jangka panjang.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Kemkomdigi Perkuat Jaringan di Selat Sunda untuk SAR Jurnalis
Kemkomdigi memperkuat jaringan telekomunikasi di Selat Sunda untuk mempercepat operasi pencarian lima jurnal...
Kementerian PKP Percepat Bedah Rumah 2026 Kejar 400.000 Unit
Kementerian PKP percepat Program Bedah Rumah 2026 untuk mencapai target 400.000 unit dengan penyederhanaan p...
BMKG: Magnitudo Gempa Kepulauan Seribu Dimutakhirkan Jadi 6,5
BMKG memperbarui magnitudo gempa Kepulauan Seribu dari 5,9 menjadi 6,5; gempa dalam (>300 km) dan dinyatakan...
Aktivitas Anak Krakatau Menurun, Badan Geologi Waspadai Suplai Magma
Anak Krakatau berangsur menurun menjadi erupsi Strombolian, namun Badan Geologi tetap pertahankan Level III...
Menhub Perintahkan Perkuat Keselamatan Transportasi di Jawa Timur
Menhub Dudy Purwagandhi menginstruksikan penguatan keselamatan semua moda transportasi di Jawa Timur lewat I...
ICP Agustus 2026 Naik Jadi USD89,43 per Barel
ICP Agustus 2026 naik menjadi USD89,43 per barel karena risiko geopolitik dan potensi gangguan pasokan, kata...