BMKG: Magnitudo Gempa Kepulauan Seribu Dimutakhirkan Jadi 6,5
BMKG memperbarui magnitudo gempa di Kepulauan Seribu menjadi 6,5 pada Sabtu, 12 September 2026. Supervisor On Duty Operasional Gempabumi dan Tsunami, Firzy Reza Gema Ramadhan, mengatakan gempa bersifat gempa dalam dengan kedalaman lebih dari 300 kilometer dan tidak berpotensi memicu tsunami.
Pemutakhiran magnitudo: dari 5,9 menjadi 6,5
BMKG awalnya merilis magnitudo 5,9 sebagai informasi cepat. Setelah mengolah rekaman seismik yang lebih panjang, lembaga ini memperbarui angka menjadi 6,5. Pemutakhiran dilakukan sesuai prosedur operasi standar yang mengutamakan penyampaian informasi cepat kepada publik.
"SOP BMKG adalah melakukan diseminasi atau penyampaian informasi cepat kepada masyarakat dalam waktu kurang dari lima menit. Karena itu, data awal yang disampaikan masih belum begitu lengkap, nantinya, pada saat parameter diperbarui, datanya jauh lebih lengkap dan komprehensif,"
Sifat gempa dan jangkauan guncangan
Firzy menjelaskan sumber gempa berasal dari lempeng samudra yang menunjam sangat dalam ke bawah Pulau Jawa. Kedalaman >300 km membuat gempa dikategorikan dalam dan memengaruhi karakter rambatan energi.
Akibat kedalaman tersebut, rambatan energi secara vertikal melemah tetapi sinar seismik menyebar lebih luas. Oleh sebab itu, laporan getaran diterima dari wilayah yang tersebar dari Sumatra Barat hingga Jawa bagian timur.
"Karena titik gempanya sangat dalam, rambatan energi secara vertikal langsung ke atas mengalami pelemahan. Namun, sinar seismiknya berangsur-angsur meluas sehingga daerah yang jauh justru dapat merasakan getarannya,"
Laporan dan pemantauan
BMKG menerima laporan getaran termasuk dari Pariaman, Sumatra Barat. Menariknya, area dekat Jakarta dilaporkan tidak merasakan guncangan sekuat wilayah yang lebih jauh dari episentrum.
Sampai saat dialog berlangsung, Firzy menyatakan belum ada laporan gempa susulan. Tim BMKG tetap memantau keadaan dan akan memperbarui informasi bila diperlukan.
Potensi tsunami dan imbauan keselamatan
Hasil pemodelan BMKG menunjukkan tidak ada potensi tsunami. Firzy menegaskan gempa sangat dalam tidak memenuhi kriteria pembangkit tsunami, yang biasanya terjadi pada kedalaman dangkal di bawah sekitar 60 kilometer.
Ia mengimbau masyarakat tetap tenang dan menghindari menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Masyarakat juga diminta menjauhi bangunan yang mengalami retak atau kerusakan akibat guncangan.
Konteks historis
Gempa pada kedalaman serupa pernah terjadi sebelumnya. BMKG mencatat gempa magnitudo 5,4 pada 15 Mei 2024 dan magnitudo 4,5 pada 14 Agustus 2023 di zona kedalaman yang sama.
BMKG terus memantau aktivitas seismik dan akan menyampaikan pembaruan jika ada perkembangan baru.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Kemkomdigi Perkuat Jaringan di Selat Sunda untuk SAR Jurnalis
Kemkomdigi memperkuat jaringan telekomunikasi di Selat Sunda untuk mempercepat operasi pencarian lima jurnal...
Kementerian PKP Percepat Bedah Rumah 2026 Kejar 400.000 Unit
Kementerian PKP percepat Program Bedah Rumah 2026 untuk mencapai target 400.000 unit dengan penyederhanaan p...
BPOM Dorong Peralihan ke Pencegahan dalam Sistem Kesehatan
Kepala BPOM Taruna Ikrar mendorong pergeseran fokus kesehatan ke promotif dan preventif untuk mengurangi beb...
Aktivitas Anak Krakatau Menurun, Badan Geologi Waspadai Suplai Magma
Anak Krakatau berangsur menurun menjadi erupsi Strombolian, namun Badan Geologi tetap pertahankan Level III...
Menhub Perintahkan Perkuat Keselamatan Transportasi di Jawa Timur
Menhub Dudy Purwagandhi menginstruksikan penguatan keselamatan semua moda transportasi di Jawa Timur lewat I...
ICP Agustus 2026 Naik Jadi USD89,43 per Barel
ICP Agustus 2026 naik menjadi USD89,43 per barel karena risiko geopolitik dan potensi gangguan pasokan, kata...