BMKG: Musim Kemarau Meluas, Namun Hujan Intens Masih Terjadi
BMKG melaporkan musim kemarau semakin meluas di berbagai wilayah Indonesia pada pertengahan Juni 2026, tetapi sejumlah daerah masih berpotensi mengalami hujan intens karena dinamika atmosfer. Pengamatan ini dikumpulkan pada 11-18 Juni 2026 di berbagai pulau, dengan dampak pada ketersediaan air dan suhu udara.
Perkembangan musim kemarau
Menurut BMKG, kondisi atmosfer bagian selatan Indonesia menunjukkan karakter musim kemarau. Banyak lokasi di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara mencatat hari tanpa hujan dalam kategori menengah hingga sangat panjang.
"Durasi hari tanpa hujan di beberapa wilayah bahkan mencapai 31 hingga 60 hari berturut-turut. Kondisi ini sejalan dengan perkembangan musim, sebanyak 33,3 persen wilayah Zona Musim (233 ZOM) di Indonesia memasuki musim kemarau,"
Meluasnya musim kemarau berisiko meningkatkan kekeringan meteorologis dan mengurangi ketersediaan air. Masyarakat diimbau mewaspadai suhu siang yang lebih panas dan malam yang cenderung lebih dingin.
Hujan tinggi dan pemicu atmosfer
Meski bagian selatan mengering, wilayah utara masih mencatat curah hujan cukup tinggi. Data BMKG periode 11-14 Juni 2026 menunjukkan beberapa daerah mengalami hujan lebat per hari.
| Wilayah | Curah Hujan (mm/hari) |
|---|---|
| Sumatra Barat | 139 |
| Papua | 94 |
| Riau | 89 |
| Sulawesi Utara | (tercatat tinggi) |
| Kalimantan Barat | (tercatat tinggi) |
| Sulawesi Barat | (tercatat tinggi) |
BMKG menjelaskan hujan intens ini dipicu oleh aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial dan Gelombang Kelvin, serta sirkulasi siklonik di Samudra Hindia barat Sumatra dan sekitar Selat Makassar. Fenomena-fenomena ini menciptakan konvergensi dan belokan angin yang mendukung pertumbuhan awan konvektif.
"Kondisi ini dipengaruhi oleh aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial yang terpantau aktif. Di sebagian wilayah Sumatra, Sulawesi, dan Papua, serta Gelombang Kelvin di sebagian wilayah Sumatra,"
Dampak dan prediksi ke depan
BMKG memperkirakan wilayah yang memasuki musim kemarau akan terus bertambah pada Dasarian III Juni 2026. Sebagian besar Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, dan Papua diprediksi mengalami curah hujan di bawah normal.
Perkembangan El Niño Southern Oscillation (ENSO) menunjukkan kecenderungan fase hangat. Indeks Niño 3.4 tercatat +0,81 dan Southern Oscillation Index mencapai -24,3. Meski demikian, peluang hujan masih terbuka karena faktor atmosfer regional dan lokal dapat memicu pembentukan awan di beberapa wilayah.
Dengan kombinasi kemarau yang meluas dan anomali hujan di wilayah tertentu, BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan, mengelola sumber daya air, serta memantau perkembangan cuaca harian.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
UMN Ubah Sampah Residu Jadi Arang dan Perkuat Pemasaran Digital
UMN mengolah sampah residu menjadi arang dan mengembangkan platform CRM untuk memperkuat pemasaran Bank Samp...
Pemerintah Belum Buka Bantuan Asing untuk Penanganan Gempa NTT
Pemerintah menilai penanganan gempa NTT masih bisa dikelola sendiri sehingga belum membuka bantuan asing; id...
Lima Bandara di NTT Terdampak Gempa, Operasional Tetap Jalan
Kemenhub menyebut lima bandara di NTT terdampak gempa namun operasional tetap berjalan; inspeksi dan skema G...
PPKI: Langkah Awal Pembentukan Negara Pasca Proklamasi
PPKI menggelar sidang pertama pada 18 Agustus 1945 dan menetapkan UUD 1945, Soekarno-Hatta, serta pembentuka...
18 Agustus: Hari Konstitusi dan Hari Penelitian Kanker Payudara
18 Agustus 2026 diperingati sebagai Hari Konstitusi RI dan World Breast Cancer Research Day, sementara HUT M...
DKI Kirim Tenaga Medis dan Rp3,8 M Bantuan untuk Korban Gempa NTT
Pemprov DKI mengirim tenaga kesehatan dan bantuan Rp3,8 miliar untuk korban gempa NTT; dana dari ASN dan aja...