BMKG: Gelombang Panas Eropa Tak Likely Terjadi di Indonesia
BMKGiklim tropis, khususnya saat musim kemarau.
Penilaian BMKG soal perbandingan suhu
Ardhasena menegaskan perbedaan karakteristik antara gelombang panas di Eropa dan kondisi di Indonesia. Di beberapa wilayah Indonesia, suhu bisa mencapai 35–36°C, namun gelombang panas Eropa tercatat menembus lebih dari 40°C.
"Menurut analisis kami kejadian lonjakan temperatur seperti yang terjadi di Eropa itu masih kecil peluangnya terjadi di Indonesia. Tapi tidak berarti bahwa kita tidak mengalami suhu panas,"
Mengapa Indonesia kurang rentan
BMKG menjelaskan faktor geografis menjadi penentu penting. Indonesia dikelilingi lautan yang bertindak sebagai penyangga alami terhadap lonjakan suhu ekstrem.
"Alasannya karena kita dikelilingi banyak lautan dengan gelombang-gelombang tinggi. Gelombang-gelombang tinggi yang menjadi penyangga untuk mencegah terjadinya lonjakan temperatur yang tinggi seperti yang sekarang terjadi di Eropa,"
Kelembapan udara yang tinggi juga membuat udara terasa lebih gerah, namun mengurangi peluang terjadinya lonjakan temperatur drastis seperti di Eropa. Selain itu, di Indonesia suhu umumnya turun setelah sore sehingga memberi kesempatan tubuh untuk pulih.
Dampak, tren kenaikan suhu, dan risiko kesehatan
BMKG mencatat adanya tren kenaikan suhu rata-rata di Indonesia. Ardhasena menyebut kenaikan mencapai sekitar 0,3°C per dekade. Kombinasi suhu tinggi dan kelembapan besar dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
"Karakteristik lain juga yang menjadi ciri dari gelombang panas yaitu temperatur malamnya itu tidak turun. Sementara di Indonesia setelah sore kan temperatur itu turun, memungkinkan kita untuk merecovery diri,"
Langkah antisipasi dan imbauan
Untuk mengurangi dampak, BMKG telah mengembangkan sistem peringatan dini suhu panas di beberapa kota besar, termasuk Jakarta, dan akan memperluasnya secara bertahap. BMKG juga mengimbau warga untuk membatasi aktivitas di luar pada siang hari dan menghindari paparan sinar ultraviolet berkepanjangan.
Rekomendasi praktis yang disampaikan BMKG:
- Batasi aktivitas di luar ruangan pada siang hari.
- Gunakan pelindung kepala dan pakaian yang menutup saat terpapar matahari.
- Jaga hidrasi dengan mengonsumsi cairan yang cukup.
- Kurangi paparan sinar ultraviolet lama untuk melindungi kulit.
"Masyarakat yang beraktivitas siang hari di luar dapat menggunakan pelindung kepala, lalu menjaga hidrasi tetap dengan mengkonsumsi cairan yang banyak. Mengurangi aktivitas di luar yang barangkali lama karena tidak hanya panas tetapi juga paparan sinar ultraviolet lama dapat merusak kulit,"
Meski peluang gelombang panas ekstrem tetap rendah, kenaikan suhu rata-rata menuntut kewaspadaan berkelanjutan terhadap potensi risiko kesehatan publik.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
PLN Indonesia Power Catat Kinerja Positif Sepanjang 2025
PLN Indonesia Power melampaui target RKAP 2025: penjualan 82,17 TWh, EAF non-PLTU 93,18%, dan penambahan 2.0...
KLH Tanggapi Kebakaran TPA Jatiwaringin, PM2.5 Capai >1.000 µg/m³
KLH turunkan tim teknis dan dukung water bombing setelah kebakaran TPA Jatiwaringin; PM2.5 terukur >1.000 µg...
Indonesia dan Belarus Sepakati MoU, Luncurkan Roadmap 2026–2030
Indonesia dan Belarus menandatangani beberapa MoU di Istana Merdeka dan meluncurkan Roadmap Kerja Sama 2026–...
DPR Tinjau Dugaan Pelarangan Ibadah di Depok, Dorong Toleransi
Hillary Brigitta Lasut meninjau dugaan pelarangan ibadah di Cipayung, Depok; klaim akibat kesalahpahaman, bu...
PTPN I Percepat Transformasi Jadi Korporasi Agribisnis Modern
PTPN I mempercepat transformasi menjadi korporasi agribisnis modern dengan fokus pada tata kelola, manajemen...
RRI Luncurkan Pro2 English Corner untuk Bangun Komunitas Belajar
RRI meluncurkan Pro2 English Corner per 2 Juli 2026 sebagai program mingguan untuk belajar dan membangun kom...