Menteri Ekraf Dorong Pengembangan Bioskop Modular di Daerah
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mendorong pengembangan bioskop modular sebagai upaya memperluas akses masyarakat terhadap film nasional dan mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif di berbagai daerah. Pernyataan itu disampaikan saat menyambut kolaborasi dengan PT Indobox Cinematic Buana, Minggu, 26 Juli 2026.
Dorongan pengembangan dan tujuan
Riefky menilai model bioskop modular dapat menjadi solusi cepat untuk menjangkau wilayah yang belum memiliki fasilitas pemutaran. Ia mengatakan program ini bertujuan memberi kesempatan warga di luar Jawa menikmati karya sineas Indonesia serta memperkuat ekosistem perfilman nasional.
"Ini menjadi satu semangat dengan Indobox Cinema yang saling menyadari bahwa lumbung-lumbung ekonomi kreatif banyak tersebar sehingga masyarakat di berbagai daerah memiliki kesempatan sama untuk menikmati karya sineas Indonesia,"
Keterbatasan akses bioskop saat ini
Menurut Kementerian, saat ini sekitar 74 persen kabupaten dan kota belum memiliki bioskop, sementara fasilitas bioskop masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Kondisi ini membatasi distribusi film nasional dan akses penonton terhadap variasi karya, termasuk film independen dan daerah.
Kolaborasi dengan Indobox Cinema
Kerja sama dengan PT Indobox Cinematic Buana diharapkan mempercepat penyebaran model itu. Perusahaan menyatakan konsep bioskop modular dirancang dengan investasi lebih efisien, waktu pembangunan relatif singkat, serta harga tiket yang lebih terjangkau.
Perwakilan perusahaan menjelaskan, model ini memungkinkan pelibatan pelaku usaha lokal, komunitas, dan talenta kreatif setempat. Selain itu, kementerian menyatakan siap memfasilitasi komunikasi dengan pemerintah daerah untuk memanfaatkan aset atau lahan publik sebagai lokasi pembangunan.
Manfaat ekonomi dan budaya
Pengembangan bioskop modular tidak hanya menyediakan hiburan, tetapi juga memicu aktivitas ekonomi kreatif di lokasi sekitarnya. Dampak yang diharapkan meliputi peningkatan lapangan kerja, tumbuhnya usaha lokal, dan saluran distribusi resmi bagi film independen serta dokumenter.
- Memperluas jangkauan penonton film nasional
- Mendorong hilirisasi subsektor film
- Menciptakan lapangan kerja dan aktivitas usaha lokal
- Memberi ruang untuk film daerah dan dokumenter
Langkah ke depan
Riefky dan mitra menegaskan pentingnya sinergi antar-pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah dan pelaku industri lokal, untuk memastikan proyek berjalan efektif. Jika berhasil, model ini diproyeksikan meningkatkan inklusivitas ekosistem perfilman Indonesia dan memperkuat daya saing karya nasional di tingkat daerah.
Implementasi pilot project di beberapa kabupaten akan menjadi tolok ukur, sebelum skala pengembangan diperluas ke wilayah lain.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Kemenbud Usulkan Tari Zapin ke UNESCO untuk Perkuat Pelestarian
Kementerian Kebudayaan mengusulkan Tari Zapin ke UNESCO (29 Sept 2026) untuk memperkuat pelestarian lintas g...
Korlantas Buka Layanan Blokir ETLE di Samsat Seluruh Indonesia
Korlantas membuka layanan pengurusan blokir ETLE langsung di Samsat mulai 30 September 2026 untuk memudahkan...
STNK Digital Resmi Berlaku, Pengendara Tak Perlu Bawa STNK Fisik
Korlantas luncurkan STNK Digital lewat aplikasi Digital Korlantas; dokumen elektronik ini setara hukum denga...
Basarnas Alihkan Pencarian Jurnalis ke Operasi SAR Rutin
Basarnas tetap melanjutkan pencarian lima jurnalis lewat operasi SAR rutin; pencarian berlangsung 24 jam ses...
Wamensos Dorong Pembangunan Sekolah Rakyat di Pekalongan
Wamensos mendorong percepatan pembangunan Sekolah Rakyat di Pekalongan; Pemkab sediakan lahan 8,1 ha untuk m...
Menko Pangan Tawarkan Insentif Karbon untuk Investor Hijau
Menko Pangan Zulkifli Hasan tawarkan insentif pasar karbon untuk tarik investasi hijau di sektor pangan, sam...