Bioenergi Didorong Perkuat Ketahanan Energi lewat B50 dan E20
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Saleh Abdurrahman, menyatakan percepatan pemanfaatan bioenergi melalui kebijakan B50 dan E20 adalah langkah strategis memperkuat ketahanan energi nasional. Pernyataan itu disampaikan saat ia memaparkan tujuan utama kebijakan tersebut, yaitu mengurangi ketergantungan impor bahan bakar dan meningkatkan kemandirian energi.
B50 dan E20 untuk mengurangi impor bahan bakar
Saleh menegaskan program campuran biodiesel dan bioetanol ini menargetkan penggantian sebagian bahan bakar fosil dengan bahan bakar berbasis sumber daya domestik. Langkah ini dinilai penting untuk menekan kebutuhan impor dan menjaga stabilitas pasokan energi nasional.
Transportasi jadi prioritas
Menurut Saleh, sektor transportasi menjadi fokus karena menyerap sebagian besar konsumsi bahan bakar di dalam negeri. Ia menilai pengurangan impor perlu dimulai dari sektor ini agar efek penghematan lebih cepat dirasakan pada neraca energi nasional.
"Sektor transportasi sangat krusial sehingga pasokan energinya harus terjamin dan diamankan untuk mendukung aktivitas masyarakat," ujar Saleh Abdurrahman.
Ketersediaan biodiesel
Saleh menyebut pemerintah telah menghitung kebutuhan biodiesel untuk implementasi B50 yang akan diberlakukan secara nasional. Ia meyakini kapasitas produsen domestik mampu memenuhi peningkatan permintaan setelah koordinasi antar-pemangku kepentingan dilaksanakan.
"Kebutuhan biodiesel diperkirakan meningkat menjadi sekitar dua puluh juta kiloliter dan diyakini masih dapat dipenuhi," kata Saleh.
Regulasi kunci bagi pengembangan bioetanol
Pengembangan bioetanol menurut Saleh memerlukan kepastian regulasi agar investasi dan produksi berkembang optimal. Ia menekankan perlunya penyederhanaan kebijakan cukai dan penyesuaian harga indeks pasar untuk menciptakan iklim usaha yang sehat.
Dengan kepastian kebijakan, Saleh berpendapat akan muncul sinyal positif bagi produsen yang sudah ada, investor baru, serta upaya revitalisasi pabrik-pabrik bioetanol.
Keseimbangan energi, pangan, dan lingkungan
Saleh juga menggarisbawahi pentingnya menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi, ketahanan pangan, dan kelestarian lingkungan. Ia menyarankan peningkatan produktivitas tanaman pangan dan minyak nabati lebih diutamakan daripada membuka lahan baru untuk menghindari kerusakan lingkungan.
Selain itu, pengembangan bioetanol berbasis bahan nonpangan diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi baru di daerah-daerah penghasil bahan baku.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Kemenkeu Pastikan Pembiayaan Awal DDMF Tak Gunakan APBN
Kemenkeu memastikan modal awal DDMF tidak menggunakan APBN; instrumen ini akan biayai proyek strategis lewat...
UKWR RRI 2026: Jurnalis RRI Jakarta Harap Lulus dengan Nilai Memuaskan
Peserta UKWR RRI di Jakarta berharap lulus kompeten; ujian 19-20 Agustus 2026 diikuti 71 peserta.
Wamendikdasmen Tekankan Motivasi dan Pendampingan PJJ di Gorontalo
Wamendikdasmen tinjau PJJ di SMAN 1 Gorontalo, menekankan motivasi, pendampingan keluarga, dan pertemuan lur...
RRI Siapkan Jurnalis Hadapi Migrasi Audiens lewat UKWR ke-54
RRI gelar UKWR ke-54 (19-20 Agustus 2026) untuk meningkatkan kompetensi jurnalis dan menanggapi migrasi audi...
Wamendikdasmen Tinjau PJJ di Gorontalo: Pastikan Anak Tetap Belajar
Wamendikdasmen tinjau PJJ di Gorontalo untuk memastikan anak ATS mendapat pendampingan, motivasi, dan layana...
Gempa M7,7 Guncang NTT: Empat Pasar Rusak dan Rantai Pasok Terganggu
Gempa M7,7 di NTT pada 15 Agustus 2026 merusak empat pasar, termasuk Pasar Inpres Ruteng, dan mengganggu ran...