Ekonomi

BI Naikkan Suku Bunga, Rupiah Menguat 52 Poin

Bagikan:
Grafik pergerakan rupiah terhadap dolar AS dan gedung Bank Indonesia

Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mei 2026, mendorong rupiah kembali menguat. Keputusan menaikkan BI Rate dari 4,75 persen menjadi 5,25 persen membuat nilai tukar rupiah ditutup menguat 0,29 persen atau 52 poin ke posisi Rp17.653 per dolar AS.

Respons pasar setelah pidato Presiden dan keputusan BI

Pasar memberi respons positif setelah pidato Presiden Prabowo Subianto di Rapat Paripurna DPR dan keputusan BI. Dalam pidato tersebut, Presiden menyoroti kondisi pertumbuhan ekonomi yang stagnan dan masalah distribusi kesejahteraan.

Prabowo mengatakan, meski perekonomian melaju, jumlah masyarakat kelas menengah menurun dan kemiskinan meningkat

Pernyataan tersebut diikuti reaksi pasar yang memperhitungkan kebijakan fiskal dan moneter pemerintah ke depan.

Alasan BI menaikkan suku bunga

Keputusan menaikkan suku bunga menghentikan kebijakan penahanan suku bunga selama delapan bulan beruntun. BI menyatakan kenaikan bertujuan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar dan membantu menjaga capaian inflasi periode 2026–2027.

Keputusan ini mengakhiri kebijakan BI menahan suku bunga selama 8 bulan beruntun. Keputusan ini dilakukan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah serta menjaga pencapaian inflasi tahun 2026-2027,

Hal ini disampaikan oleh analis pasar yang memantau keputusan RDG pada Rabu, 20 Mei 2026.

Target makro 2027 dalam KEM PPKF

Pemerintah menetapkan target makro dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF). Target pertumbuhan ekonomi 2027 dipatok pada 5,8–6,5 persen, dengan target inflasi di kisaran 1,5–3,5 persen.

Asumsi harga minyak mentah ditetapkan antara US$70–90 per barel, sementara nilai tukar yang diasumsikan untuk penyusunan anggaran berada di rentang Rp16.800–Rp17.500 per dolar AS.

Dampak eksternal dan ekspektasi suku bunga global

Pasar juga mewaspadai tekanan dari luar negeri, termasuk potensi inflasi akibat konflik AS–Iran yang mendorong harga minyak dunia tetap tinggi. Kondisi itu memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga di Amerika Serikat.

Kondisi itu memperkuat ekspektasi akan kenaikan suku bunga oleh the Fed. Dari data CME FedWatch Tool, ekspektasi pasar akan kenaikan suku bunga the Fed mencapai 50 persen,

Ekspektasi kenaikan suku bunga global memberi tekanan pada pergerakan modal dan menjadi faktor pertimbangan BI dalam keputusan moneter.

Prospek dan implikasi

Kenaikan BI Rate diperkirakan membantu menahan pelemahan rupiah dan mengendalikan inflasi jangka pendek. Namun, efektivitas langkah ini akan dipengaruhi kondisi eksternal, terutama pergerakan harga minyak dan kebijakan suku bunga di ekonomi utama.

Pelaku pasar kini memantau langkah selanjutnya BI dan respons kebijakan fiskal pemerintah untuk memastikan target makro 2027 dapat tercapai.

J
Penulis
John Doe

No bio yet 😊

Berita Terkait

Komentar (0)

Komentar akan ditinjau sebelum ditampilkan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!