IHSG Turun 0,60% Jeda Siang, Pasar Tunggu Pidato Presiden dan Rapat BI
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada jeda siang perdagangan Rabu, 20 Mei 2026 di Bursa Efek Indonesia. IHSG turun 0,60 persen atau 38,5 poin ke level 6.332,18, setelah dibuka di 6.352,20. Pelemahan ini terjadi di tengah sorotan pasar terhadap pidato Presiden dan keputusan Bank Indonesia.
Pergerakan IHSG pada sesi pertama
IHSG sempat menanjak ke level tertinggi 6.459,56 sebelum berbalik turun dan menyentuh titik terendah 6.215,56. Tekanan jual terlihat dominan menjelang penutupan sesi pertama, meski indeks sempat mencatat reli awal hari.
Proyeksi teknikal dan rekomendasi analis
Tim Analis Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG berpeluang menguji level support di kisaran 6.250–6.300. Mereka menyampaikan kecermatan posisi pasar saat ini karena fluktuasi volatilitas yang meningkat.
"IHSG diperkirakan berpotensi uji level support pada 6.250-6.300,"
Faktor fundamental yang mempengaruhi sentimen
Pasar menaruh perhatian pada pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Paripurna DPR RI hari ini, yang memaparkan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal RAPBN 2027. Selain itu, pelaku pasar menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang digelar pada hari yang sama.
Konsensus pasar memperkirakan Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen untuk meredam pelemahan rupiah. Data makro lain yang diperhatikan mencakup pertumbuhan kredit April 2026 yang diprakirakan mencapai 9,7 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan Maret 2026 yang sebesar 9,49 persen.
Data fiskal dan tekanan kebijakan ekspor
Kementerian Keuangan melaporkan defisit APBN April 2026 sekitar Rp164,4 triliun, turun dari defisit Maret 2026 sebesar Rp240,1 triliun. Penurunan defisit didukung oleh keseimbangan primer yang kembali mencatat surplus sekitar Rp28 triliun. Pendapatan negara dan belanja negara pada April tercatat sebagai berikut:
- Pendapatan negara: Rp918,4 triliun
- Belanja negara: Rp1.082,8 triliun
"Pendapatan negara meningkat menjadi Rp918,4 triliun, dan belanja negara juga naik menjadi Rp1.082,8 triliun."
Di sisi lain, kekhawatiran investor muncul atas kabar rencana pemerintah membentuk badan khusus untuk mengatur ekspor sejumlah komoditas. Kebijakan ini diperkirakan mencakup beberapa komoditas utama, seperti:
- Batu bara
- Crude Palm Oil (CPO)
- Mineral logam
Investor khawatir kebijakan tersebut dapat membuka potensi pengendalian harga jual perusahaan eksportir, sehingga mendorong tekanan jual di bursa.
Outlook
Dengan kombinasi faktor teknikal, keputusan moneter BI, dan sentimen kebijakan ekspor, IHSG diperkirakan akan bergerak hati-hati pada sesi berikutnya. Pasar kini menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur BI dan reaksi pasar terhadap pidato fiskal yang disampaikan di DPR untuk menentukan arah lanjutan indeks.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Grab Luncurkan Group Ride: Berbagi Ongkos hingga 50%
Grab meluncurkan fitur Group Ride sejak April 2026 untuk atur perjalanan bersama lewat satu pemesanan, denga...
Mobilitas Kereta Api Sumatra Capai 11,34 Juta Penumpang
KAI mencatat 11.342.350 pergerakan penumpang di Sumatra (Jan–Sep 2026), naik 12,02% dibandingkan 2025.
Kemenko Hilirisasi dan Energi Diharap Percepat Transisi Energi
Imaduddin Abdullah menilai pembentukan Kemenko Hilirisasi dan Energi percepat transisi energi, hilirisasi, d...
Hilirisasi Nikel Dorong PNBP Capai Rp21 Triliun
Hilirisasi nikel mendorong ekspor USD6,54 miliar dan PNBP mencapai Rp21 triliun hingga 31 Agustus 2026, namu...
Harga Emas Pekan Depan Diprediksi Fluktuatif, Waspada Saat Beli
Harga emas dunia diperkirakan berfluktuasi tajam pekan depan karena pengaruh indeks dolar AS dan harga minya...
Indonesia Kuasai 0,9% Pasar Ekspor Bambu, Kemenperin Dorong Penguatan Hulu
Kemenperin sebut Indonesia kuasai 0,9% pasar ekspor bambu global; AKB 2026 digelar untuk perkuat pasokan dan...