IHSG Berisiko Melemah, Potensi Uji Support 6.250-6.300
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih berisiko melemah pada perdagangan Rabu, 20 Mei 2026, di Bursa Efek Indonesia. Sehari sebelumnya IHSG ditutup turun tajam 3,46 persen ke level 6.370,68, sehingga pasar diperkirakan akan menguji level support di 6.250-6.300.
Perkiraan pasar dan sentimen utama
Tim analis Phintraco Sekuritas menyatakan bahwa tekanan jual masih berlanjut dan pasar menunggu sejumlah katalis kebijakan. Di antaranya adalah pidato Presiden di Rapat Paripurna DPR dan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) pada hari yang sama.
“IHSG diperkirakan berpotensi uji level support pada 6.250-6.300,”
Pidato Presiden dan konteks RAPBN
Presiden Prabowo Subianto akan menyampaikan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027. Ini menjadi perhatian pasar karena kali pertama Presiden menyampaikan kerangka tersebut langsung di DPR. Biasanya materi ini dibacakan oleh Menteri Keuangan.
Bank Indonesia dan kebijakan suku bunga
Investor juga mengantisipasi keputusan BI. Menurut konsensus pasar, BI diperkirakan menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 bps menjadi 5 persen untuk meredam pelemahan rupiah.
“Menurut konsensus, BI akan menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 bps menjadi 5 persen,”
Data ekonomi makro yang diamati
Pelaku pasar mencermati data kredit dan fiskal. Pertumbuhan kredit pada April 2026 diprakirakan mencapai 9,7 persen secara tahunan, naik dari 9,49 persen pada Maret 2026. Sementara itu, Kementerian Keuangan melaporkan defisit APBN pada April 2026 sekitar Rp164,4 triliun, lebih rendah dibandingkan Maret 2026 yang sebesar Rp240,1 triliun.
“Pendapatan negara meningkat menjadi Rp918,4 triliun, dan belanja negara juga naik menjadi Rp1.0828 triliun,”
Tim Phintraco menilai penurunan defisit sebagian ditopang oleh keseimbangan primer yang kembali mencatat surplus sekitar Rp28 triliun pada April 2026.
Isu pengaturan ekspor komoditas dan reaksi investor
Tekanan jual juga dipicu kabar rencana pemerintah membentuk badan khusus untuk mengatur ekspor sejumlah komoditas, termasuk batu bara, CPO, dan mineral logam. Pasar khawatir langkah ini dapat menimbulkan pengendalian harga jual dan menekan margin perusahaan.
“Hal tersebut menimbulkan kekhawatiran investor akan potensi pengendalian harga jual,”
Kesimpulan dan prospek
Secara keseluruhan, kombinasi sentimen kebijakan fiskal, kebijakan moneter BI, data kredit, dan potensi pengaturan ekspor menempatkan IHSG pada posisi yang rentan. Investor disarankan memantau keputusan RDG BI dan pidato Presiden sebagai penentu arah pasar jangka pendek.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Program TEKAD Dorong Produk Lokal Manggarai Bernilai Tambah
Dinas PMD Manggarai dorong kelompok tani Program TEKAD olah dan kemas produk lokal agar bernilai tambah dan...
Kode Homemade Batam: Frozen Food Tanpa Pengawet dan Ekspor
Kode Homemade Batam memproduksi frozen food dan camilan tanpa pengawet sejak 2021, kini melayani pesanan nas...
Moora Fresh: Inspirasi Usaha Kuliner dari Manokwari
Alfiana Ida Matini berbagi perjalanan membangun Moora Fresh di Manokwari, menekankan kualitas, sentuhan loka...
Inovasi dan Digitalisasi Kunci UMKM Naik Kelas
Noorahmiati: inovasi, manajemen, dan digitalisasi jadi kunci agar UMKM rumahan dapat naik kelas dan berkelan...
Perayaan HUT RI di Sidodadi Dongkrak Pendapatan UMKM
Perayaan HUT RI Ke-81 di Dusun Sidodadi, Lampung Tengah, meningkatkan pendapatan UMKM hingga tiga kali lipat...
UMKM Malinau Gelar Olahraga Bersama Semarakkan HUT ke-81 RI
Pelaku UMKM di PLB Malinau menggelar senam dan permainan pada 19 Agustus 2026 untuk memeriahkan HUT ke-81 RI...