APBN April 2026 Membaik, Defisit Turun Jadi Rp164,4 Triliun
Defisit APBN April 2026Rp164,4 triliun atau setara 0,64% dari PDB, lebih baik dibandingkan defisit Maret yang mencapai Rp240,1 triliun (0,93% dari PDB). Pernyataan ini disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pada keterangan pers di Kementerian Keuangan, Selasa, 19 Mei 2026.
Angka utama April 2026
Perbaikan defisit disertai pergeseran keseimbangan primer ke posisi surplus. Pada Maret 2026, keseimbangan primer mencatat defisit, namun pada April kembali positif.
| Komponen | Nilai (Rp) | Pertumbuhan/Tingkat |
|---|---|---|
| Defisit APBN (April 2026) | Rp164,4 triliun | 0,64% PDB |
| Defisit APBN (Maret 2026) | Rp240,1 triliun | 0,93% PDB |
| Keseimbangan primer (April 2026) | Surplus Rp28 triliun | — |
| Keseimbangan primer (Maret 2026) | Defisit Rp95,8 triliun | — |
| Penerimaan pajak (April 2026) | Rp646,3 triliun | Tumbuh 16,1% |
| Total penerimaan negara (April 2026) | Rp918,4 triliun | Tumbuh 13,3% |
| Belanja negara (April 2026) | Rp1.082,8 triliun | Tumbuh 34,3% (yoy) |
Keseimbangan primer: kembali ke zona positif
Keseimbangan primer adalah selisih antara total pendapatan negara dan total belanja negara di luar pembayaran bunga utang. Perbaikan ini menunjukkan penerimaan yang lebih kuat dan pengelolaan belanja yang lebih terarah.
"Bulan April, defisitnya berkurang menjadi Rp164,4 triliun atau 0,64 persen dari PDB,"
Menurut Menkeu Purbaya, perbaikan keseimbangan primer didorong kenaikan penerimaan, terutama dari sektor pajak.
"Itu karena cara menghitung mereka ajaib,"
Ia menanggapi proyeksi beberapa ekonom yang memperkirakan defisit tahun ini bisa membengkak sampai 3% dari PDB. Dalam APBN 2026, target defisit ditetapkan sekitar 2,68% dari PDB.
Penerimaan dan belanja
Penerimaan negara pada April tercatat Rp918,4 triliun, naik 13,3% secara tahunan. Terutama, penerimaan pajak mencapai Rp646,3 triliun atau tumbuh 16,1%.
Sementara itu, belanja negara mencapai Rp1.082,8 triliun, tumbuh 34,3% dibanding periode sama tahun lalu. Gap antara penerimaan dan belanja inilah yang menentukan defisit bulan berjalan.
Implikasi dan prospek
Perbaikan defisit dan kembalinya keseimbangan primer ke posisi surplus memberi ruang fiskal lebih baik untuk sisa tahun anggaran. Namun, tekanan belanja yang tinggi tetap menjadi perhatian.
Ke depan, penerimaan yang berkelanjutan—khususnya dari pajak—akan menentukan kemampuan pemerintah mempertahankan defisit di bawah target APBN 2026.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Public Speaking untuk UMKM: 5 Cara Perluas Peluang Bisnis
Public speaking membantu UMKM menarik pelanggan, memperluas relasi, dan mempermudah daya tawar saat mencari...
Kementan Gaspol: Gerakan Tanam Serempak 50.000 Ha untuk Swasembada
Kementan meluncurkan Gerakan Tanam Serempak 50.000 ha pada 3 Juli 2026 di 25 provinsi untuk percepat swasemb...
OJK Perkuat Ekosistem Keuangan Digital dengan Regulasi Adaptif
OJK memperkuat ekosistem keuangan digital lewat regulasi adaptif dan Roadmap IAKD 2026-2031, dibahas dalam s...
OJK Terbitkan POJK 7/2026 untuk Penguatan Permodalan BPR
OJK mengeluarkan POJK Nomor 7 Tahun 2026 untuk memperkuat permodalan BPR, mulai berlaku 30 Juni 2026 dengan...
OJK Tuntaskan Penyidikan Dugaan Tindak Pidana di BPR DCN
OJK menyerahkan tersangka dan barang bukti kasus BPR DCN ke kejaksaan, usai berkas dinyatakan lengkap. Tersa...
OJK Perkuat Literasi Pasar Modal Syariah di Universitas Gontor
OJK gelar kuliah umum di Universitas Gontor untuk tingkatkan literasi pasar modal syariah dan dorong partisi...