Ekonomi

Rupiah Melemah Jelang Keputusan BI, Tekanan Dolar dan Geopolitik

Bagikan:

Rupiah kembali melemah terhadap dolar AS pada Rabu, 20 Mei 2026, menjelang pengumuman suku bunga Bank Indonesia (BI). Pada pembukaan perdagangan, rupiah tercatat di posisi Rp17.743 per USD, turun dari penutupan Selasa di Rp17.706 per USD. Pelemahan dipicu kekuatan dolar, ketegangan geopolitik, dan antisipasi pasar terhadap keputusan RDG BI.

Kondisi pasar dan perkiraan analis

Para analis memperkirakan tekanan masih berlanjut hari ini. Analis Pasar Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, melihat faktor geopolitik sebagai pemicu utama yang mendorong harga minyak dan mengangkat dolar.

"Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS di tengah meningkatnya kekhawatiran eskalasi konflik di Timur Tengah. Tensi geopolitik yang kembali memanas membuat harga minyak mentah kembali naik,"

Lukman memprediksi rupiah bergerak di kisaran Rp17.650–Rp17.800 per USD. Indeks dolar juga menguat ke posisi 99,37, menambah tekanan pada mata uang emerging market termasuk rupiah.

Intervensi kebijakan: BI dan Pemerintah

Analis dari Mirae Asset Sekuritas, Jessica Tasijawa, menegaskan stabilisasi rupiah tetap menjadi fokus utama BI. Menurutnya, bank sentral dan pemerintah memperkuat berbagai instrumen kebijakan untuk menahan depresiasi nilai tukar.

"Untuk mendukung stabilisasi tersebut, BI memperkuat bauran kebijakan. Antara lain melalui intervensi valas, kenaikan imbal hasil SRBI, pembelian SBN, perluasan LCT, dan pengetatan aturan valas,"

Jessica menambahkan bahwa langkah intervensi agresif tersebut berdampak pada posisi cadangan devisa yang turun sekitar USD 10,3 miliar. Pemerintah juga mulai melakukan pembelian rutin SBN sebagai bagian dari upaya stabilisasi.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakan pemerintah siap mengalokasikan sekitar Rp2 triliun per hari untuk pembelian obligasi domestik. Langkah ini dimaksudkan untuk mendukung likuiditas dan mencegah lonjakan imbal hasil yang merugikan pasar domestik.

Dampak jangka pendek dan prospek

Meski tertekan saat ini, analis memperkirakan rupiah berpotensi menguat secara bertahap pada periode musim panas mendatang. Jessica menilai permintaan musiman dolar akan mereda pada Juli–Agustus 2026, memberi ruang bagi stabilisasi nilai tukar.

Koordinasi kebijakan fiskal dan moneter diharapkan menjaga kepercayaan investor dan menahan volatilitas pasar keuangan domestik. Namun, hasil keputusan RDG BI tetap menjadi faktor penentu arah pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan.

Data singkat

Indikator Nilai
Opening rupiah (20 Mei 2026) Rp17.743 / USD
Penutupan sebelumnya (19 Mei 2026) Rp17.706 / USD
Perkiraan kisaran hari ini Rp17.650 – Rp17.800
Indeks Dolar 99,37
Perubahan cadangan devisa Turun ~USD 10,3 miliar
Alokasi pemerintah untuk SBN Rp2 triliun/hari

Ke depan, pasar akan mencermati hasil RDG BI dan respons kebijakan lanjutan dari pemerintah. Perkembangan geopolitik global juga tetap menjadi risiko kunci yang berpotensi memperpanjang tekanan pada rupiah.

J
Penulis
John Doe

No bio yet 😊

Berita Terkait

Komentar (0)

Komentar akan ditinjau sebelum ditampilkan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!