Rupiah Melemah ke Rp17.706 per Dolar, Tekanan dari Konflik AS–Iran
Rupiah ditutup melemah pada Rp17.706 per dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa, 19 Mei 2026, turun 0,22% (38 poin). Pelemahan dipicu sentimen global terkait konflik antara AS dan Iran serta perkembangan kebijakan AS yang memengaruhi ekspektasi pasar.
Penutupan pasar dan faktor pemicu
Berdasarkan data perdagangan, rupiah menutup sesi lebih rendah setelah berita geopolitik dan kebijakan global memenuhi pasar. Ketegangan seputar potensi eskalasi antara AS dan Iran menciptakan aliran modal ke aset safe-haven, menekan mata uang negara berkembang.
Perkembangan AS–Iran dan kebijakan AS
Presiden AS, menurut laporan, menunda serangan lanjutan terhadap Iran untuk membuka peluang negosiasi. Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menilai langkah itu belum cukup meredakan kekhawatiran pelaku pasar.
"Trump mengatakan bahwa ada 'peluang yang sangat baik' bagi AS untuk mencapai kesepakatan dengan Iran. Serta untuk mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir,"
Ibrahim juga menyebut perantara diplomatik aktif. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan posisi Teheran telah disampaikan melalui Pakistan. Namun, otoritas Pakistan yang dikutip anonim mengatakan belum ada perkembangan berarti antara Teheran dan Washington.
Selain itu, kebijakan sanksi AS turut memberi dampak. "Secara terpisah, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent memperpanjang pengecualian sanksi selama 30 hari. Perpanjangan diberikan negara-negara yang 'rentan energi' agar tidak membeli minyak Rusia," ujar Ibrahim.
Berita domestik kebijakan AS lain yang menggaung adalah rencana pelantikan Kevin Warsh sebagai Ketua Fed, menggantikan Jerome Powell, setelah persetujuan Senat untuk masa jabatan empat tahun. Pergantian pimpinan bank sentral AS mendorong investor berhati-hati mengevaluasi arah moneter ke depan.
Risiko bagi harga pangan dalam negeri
Ibrahim mengingatkan pelemahan rupiah rawan memicu kenaikan biaya impor dan menekan pasokan pangan domestik. Ketergantungan impor membuat harga makanan rentan terpaut pada nilai tukar.
- Gandum dan kedelai: 90% impor
- Bawang dan bawang putih: 95% impor
- Gula: sekitar 60% impor
- Daging sapi dan kerbau: sekitar 54% impor
"Melemahnya rupiah akan meningkatkan biaya impor dan ini berisiko menyebabkan kenaikan harga pangan di dalam negeri," ujar Ibrahim.
Ibrahim menjelaskan fenomena ini sebagai imported inflation, yaitu tekanan inflasi yang bersumber dari pelemahan mata uang akibat tingginya ketergantungan impor. Ia menambahkan bahwa dampak pada tiap komoditas berbeda. "Untuk gandum dan kedelai, dampaknya bisa terasa hanya dalam hitungan minggu. Karena industri pengolahan langsung menghadapi kenaikan biaya bahan baku," kata Ibrahim.
Implikasi dan prospek
Dengan kondisi global yang masih rentan dan ketergantungan impor pangan, tekanan pada rupiah perlu diantisipasi guna menahan dampak inflasi makanan. Pemantauan kebijakan AS, perkembangan diplomasi regional, dan langkah stabilisasi nilai tukar akan menentukan apakah tekanan ini bersifat sementara atau berlanjut.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
KA Mutiara Timur Layani 304.522 Penumpang Jan–Sep 2026
KA Mutiara Timur layani 304.522 penumpang Jan–Sep 2026, naik 22,78%; konektivitas ke Banyuwangi dan Ketapang...
ADB Gelontorkan USD650 Juta untuk Pendalaman Pasar Keuangan Indonesia
ADB setujui dukungan USD650 juta untuk memperdalam pasar modal, modernisasi keuangan digital, dan dorong pem...
OJK Targetkan Lima Bank Syariah Beraset Besar pada 2027
OJK menargetkan lima bank syariah beraset besar pada 2027 lewat konversi dan konsolidasi, dengan BSI sebagai...
Kenaikan PTKP Dinilai Angin Segar untuk Daya Beli
Ekonom FEB UI nilai kenaikan PTKP dapat menjaga daya beli dan memperkuat keadilan pajak; pembahasan lanjut d...
Grab Luncurkan Group Ride: Berbagi Ongkos hingga 50%
Grab meluncurkan fitur Group Ride sejak April 2026 untuk atur perjalanan bersama lewat satu pemesanan, denga...
Mobilitas Kereta Api Sumatra Capai 11,34 Juta Penumpang
KAI mencatat 11.342.350 pergerakan penumpang di Sumatra (Jan–Sep 2026), naik 12,02% dibandingkan 2025.