Trenggalek Kembangkan Bawang Putih di Pule untuk Kurangi Impor
Trenggalek mulai mengembangkan budidaya bawang putih di Desa Karanganyar, Kecamatan Pule, sebagai upaya mengurangi ketergantungan impor dan membuka alternatif penghasilan bagi petani. Program percontohan diluncurkan pada lahan seluas 1,5 hektare di kawasan perbukitan lebih dari 700 MDPL, dengan target melihat potensi produksi lokal.
Lahan percontohan dan skala awal
Lahan percontohan berada di ketinggian yang relatif sejuk sehingga dinilai cocok untuk bawang putih. Tahap awal memanfaatkan 1,5 hektare lahan dengan penanaman bibit sebanyak 150 kilogram. Budidaya melibatkan puluhan petani yang tergabung dalam delapan gabungan kelompok tani (gapoktan).
Metode tanam dan target panen
Metode penanaman tidak jauh berbeda dengan bawang merah, namun bawang putih memerlukan perlakuan perawatan khusus agar tumbuh optimal. Dengan perlakuan tepat, bawang putih ditargetkan panen dalam sekitar tiga bulan sejak tanam. Pemerintah daerah menggunakan lahan percontohan untuk menilai produktivitas sebelum memperluas skala.
Program nasional dan dukungan daerah
Pembangunan bawang putih di Trenggalek merupakan bagian dari program yang digulirkan secara serentak di 17 provinsi oleh Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo. Trenggalek dipilih memanfaatkan karakter pegunungan yang cocok untuk komoditas ini.
Potensi wilayah lain
Selain Kecamatan Pule, beberapa daerah lain di Trenggalek juga dianggap berpotensi dikembangkan untuk bawang putih. Pemerintah daerah menyebutkan beberapa kecamatan yang relatif sesuai.
- Bendungan
- Munjungan
Manfaat ekonomi dan ketahanan pangan
Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin menyatakan pengembangan bawang putih menawarkan peluang pasar yang luas dan bisa menjadi sumber pendapatan baru bagi petani. Jika berhasil, produksi lokal berpotensi mengurangi impor dan memperkuat ketahanan pangan daerah.
"Nah, untuk bawang putih ini menjadi tantangan sendiri. Mudah-mudahan nantinya berhasil. Karena kalau melihat lokasinya, cocok untuk ditanami,"
"Karena permintaan bawang putih tinggi dan pasarnya terbuka lebar. Ini tantangan bagi kita, utamanya para petani. Jika berhasil tentu bisa swasembada pangan bawang putih,"
Keberhasilan tahap percontohan ini akan menjadi dasar bagi pemerintah kabupaten untuk merencanakan perluasan budidaya. Jika produktivitas sesuai harapan, bawang putih bukan hanya menjadi komoditas baru bagi petani pegunungan Trenggalek, tetapi juga bagian strategi mengurangi ketergantungan impor.
Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.
Berita Terkait
DPRD Jatim Dorong Percepatan Pergub agar Perda Tepat Sasaran
DPRD Jatim mendorong percepatan Pergub sebagai aturan teknis Perda dan merencanakan evaluasi menyeluruh untu...
DPRD Jatim Desak Sumur Bor dan Embung untuk Atasi Kekeringan Bondowoso
Anggota DPRD Jatim minta Pemprov bangun sumur bor dan embung sebagai cadangan air untuk atasi kekeringan ber...
DPR Minta Pengusutan Tuntas Kekerasan Ibu terhadap Anak di Pamekasan
DPR minta polisi mengusut tuntas kasus kekerasan ibu terhadap anak di Pademawu, Pamekasan, termasuk pemeriks...
PDI Perjuangan: Perubahan APBD Sumenep Harus Pro Rakyat
Fraksi PDI Perjuangan minta Perubahan APBD Sumenep 2026 tetap berpihak pada rakyat meski PAD naik dan belanj...
Surabaya Minta Perlindungan untuk Pedagang Pasar Tradisional
DPRD Surabaya dan APPSI minta pemerintah lindungi pedagang pasar tradisional dari tekanan pasar modern, dari...
DPRD Jember Minta Pangkas Anggaran Rp2,8 Miliar untuk Stiker Bantuan
DPRD Jember minta Pemkab memangkas anggaran Rp2,8 miliar untuk stiker bantuan dan mengusulkan satu jenis sti...