Ribuan Warga Perumahan TKBM Sei Mati Terendam Banjir Hampir Sebulan
Ribuan warga di Komplek Perumahan TKBM Lingkungan 18, Kelurahan Sei Mati, Kecamatan Medan Labuhan, Kota Medan, terendam banjir hampir sebulan akibat rob dan curah hujan deras. Warga mengeluhkan minimnya bantuan dan menilai unsur Muspika serta Pemko Medan belum menunjukkan respons yang memadai.
Warga terendam hampir sebulan
Menurut pengakuan penduduk setempat, genangan air kerap terjadi sejak hampir sebulan lalu dan semakin parah saat hujan turun hampir setiap hari. Air banjir berasal dari kombinasi pasang laut (rob) dan curah hujan tinggi yang menyebabkan drainase setempat meluap.
Kekecewaan terhadap Muspika dan Pemko
Sejumlah warga menyatakan kecewa karena tidak ada pejabat setempat yang datang meninjau atau memberi bantuan langsung. Syamsul Lubis, warga setempat, menilai pemerintah daerah tampak abai terhadap penderitaan banyak keluarga di lingkungan tersebut.
"Sudah hampir sebulan, rumah-rumah warga di sini terendam banjir. Tidak ada pejabat pemerintah atau Muspika yang datang ke mari. Tidak ada pula bantuan yang diterima warga. Bayangin saja, ribuan warga menderita di sini,"
Upaya kelurahan dan komunikasi dengan kecamatan
Pihak kelurahan menyatakan telah melakukan pembersihan drainase secara berkala untuk mencegah penyumbatan akibat sampah dan enceng gondok. Lurah Sei Mati, Yogi Fatresya Wahyu, mengatakan perangkat kelurahan bersama kepala lingkungan aktif mengorek drainase untuk menghindari pendangkalan dan sedimentasi.
"Perangkat kelurahan bersama seluruh kepala lingkungan dan warga selalu membersihkan drainase dari sampah-sampah dan enceng gondok untuk mencegah terjadinya penyumbatan. Bahkan, drainase acap dikorek untuk mencegah pendangkalan dan sedimentasi,"
Lurah juga menyatakan laporan kondisi fasilitas publik dan keluhan warga telah disampaikan ke Pemko Medan melalui mekanisme perencanaan seperti Musrenbang dan kanal pelaporan lainnya.
Sementara itu, Camat Medan Labuhan, Elias Padang, dilaporkan belum merespons upaya konfirmasi melalui telepon dan pesan WhatsApp hingga pagi hari pemberitaan ini disusun.
Dampak kesehatan dan kondisi geografis
Warga khawatir banjir berkepanjangan meningkatkan risiko penyakit kulit, seperti gatal-gatal, karena paparan air kotor. Lurah menjelaskan kondisi geografis Lingkungan 18 menyerupai cekungan yang memudahkan luapan air tertahan, sehingga penggenangan berulang menjadi problem jangka panjang.
Langkah ke depan
Kelurahan mengklaim telah melakukan upaya maksimal sesuai kapasitasnya dan terus berkoordinasi dengan kepala lingkungan. Namun, warga menuntut tindakan lebih konkret dari Muspika dan Pemko Medan, antara lain normalisasi saluran air, perbaikan infrastruktur, serta bantuan darurat untuk warga yang terdampak.
Penyelesaian masalah ini membutuhkan intervensi lintas instansi dan penanganan struktural agar genangan tidak berulang dan risiko kesehatan publik dapat ditekan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Petstival Kemerdekaan 2026 Medan: Pameran dan Lomba Hewan Peliharaan
YA.TEAM menggelar Petstival Kemerdekaan 2026 di Medan, 15-17 Agustus, dengan pameran, lomba hewan, edukasi,...
Ahli Sebut Audit Tak Standar pada Sidang Korupsi Inalum
Dua ahli dari penasihat hukum menilai penahanan Dante dan laporan audit kasus penjualan aluminium Inalum bel...
CCTV Rekam 100 Geng Motor Serang Rumah di Medan Labuhan
CCTV merekam ratusan geng motor menyerang rumah warga di Pekan Labuhan, Medan Labuhan; pemilik melapor ke Po...
Polda Sumut Tangkap 4 Pengedar 'Vape Getar', Sita Ratusan Liquid
Polda Sumut menangkap empat pengedar 'Vape Getar' di Medan dan menyita ratusan liquid diduga mengandung etom...
Pemprov Sumut Perketat Pengawasan akibat Kelangkaan Semen
Pemprov Sumut memperketat pengawasan distribusi semen setelah laporan kelangkaan dan kenaikan harga; koordin...
HMI: Program MBG di Labuhanbatu Carut-marut, SPPG Banyak Tak Beroperasi
HMI Labuhanbatu Raya menilai program MBG carut-marut: SPPG banyak belum beroperasi, data penerima tak akurat...