HMI: Program MBG di Labuhanbatu Carut-marut, SPPG Banyak Tak Beroperasi
RANTAUPRAPAT – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Labuhanbatu Raya menyatakan keprihatinan mendalam terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Labuhanbatu, Labuhanbatu Selatan, dan Labuhanbatu Utara, Jumat (24/7). Mereka menilai program yang ditujukan untuk pemenuhan gizi anak sekolah itu mengalami banyak kendala, terutama adanya Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang sudah selesai dibangun namun belum dioperasikan.
SPPG Terbangun, Namun Belum Difungsikan
Menurut HMI, beberapa unit SPPG di tiga kabupaten tersebut telah 100% selesai secara fisik. Namun fasilitas belum beroperasi karena belum ada penunjukan operator, tenaga dapur, dan jadwal distribusi yang jelas. Kondisi ini berpotensi merusak fasilitas baru karena tidak digunakan.
Ketua Umum HMI Cabang Labuhanbatu Raya, Baginda Sagala, menyatakan bahwa masalah ini bukan soal keterlambatan biasa, melainkan soal komitmen negara terhadap anak-anak.
"Ini bukan lagi soal keterlambatan biasa. Ini soal komitmen negara kepada anak-anak kita. Gedung SPPG sudah berdiri, anggaran sudah turun, tapi anak-anak di Labuhanbatu Raya belum juga merasakan manfaatnya. Mau sampai kapan?"
Data Penerima dan Distribusi Tidak Tepat
HMI menemukan ketidaktepatan data penerima MBG. Banyak sekolah yang belum terdaftar sementara ada sekolah lain yang menerima namun bukan sasaran utama. Frekuensi distribusi pun dilaporkan tidak rutin dengan menu yang monoton.
Minimnya sosialisasi juga disebut menimbulkan kebingungan. Orang tua dan pihak sekolah mengaku tidak dilibatkan dalam perencanaan dan pengawasan program.
Tuntutan HMI
Untuk mengatasi masalah ini, HMI mengajukan beberapa tuntutan mendesak:
- Segera operasionalkan seluruh SPPG yang sudah selesai dalam waktu maksimal satu bulan, termasuk kepastian SDM dan anggaran operasional.
- Lakukan audit menyeluruh pelaksanaan MBG di tiga kabupaten oleh Inspektorat dan DPRD untuk memastikan anggaran digunakan tepat sasaran.
- Buka ruang partisipasi publik termasuk mahasiswa, organisasi masyarakat, dan sekolah dalam pengawasan dan evaluasi program.
- Susun roadmap distribusi yang jelas dan transparan agar semua sekolah menerima MBG secara merata dan berkelanjutan.
HMI menegaskan bahwa program ini adalah hak anak, bukan proyek politik. Jika sampai akhir 2026 SPPG masih belum beroperasi, organisasi mahasiswa itu menyatakan akan menggelar aksi massa yang lebih besar.
Dampak dan Harapan
Ketidakteraturan pelaksanaan MBG berisiko menunda upaya penanganan stunting dan pemenuhan gizi anak sekolah. HMI berharap pemerintah pusat, provinsi, dan daerah memperbaiki koordinasi untuk mengeksekusi program strategis ini secara nyata.
HMI menyatakan akan terus mengawal pelaksanaan MBG agar program benar-benar menyentuh anak-anak yang membutuhkan, bukan berhenti sebagai seremonial semata.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Subulussalam Rehab Masjid Al Furqan Rp109,7 Juta (APBK-TKD 2026)
Pemkot Subulussalam mengalokasikan Rp109.700.000 untuk rehab Masjid Al Furqan melalui APBK-TKD 2026; total 2...
Dandim 0104 Sosialisasikan Penerimaan TNI AD Gelombang I TA 2027 di Langsa
Dandim 0104/Aceh Timur sosialisasikan penerimaan calon prajurit TNI AD Gelombang I TA 2027 di Langsa untuk m...
Polres Taput Jaring 350 Pelanggar Saat Operasi Patuh Toba 2026
Operasi Patuh Toba 2026 di Tapanuli Utara (26 Okt-3 Nov) menjaring 350 pelanggar dan mencatat dua kecelakaan...
Polres Dairi Tangkap 3 Tersangka Pencurian Motor di Sidikalang
Polres Dairi menangkap tiga tersangka dari dua kasus pencurian motor di Sidikalang; sejumlah barang bukti be...
Bupati Minta Bank Sumut Optimalkan Penyaluran KUR di Tarutung
Bupati Tapanuli Utara dorong Bank Sumut optimalkan penyaluran KUR untuk atasi kendala permodalan pelaku usah...
SMI Desak Investigasi Independen atas Dugaan Penyadapan LIMS
SMI mendesak investigasi independen atas dugaan penyadapan melalui LIMS yang menyeret mantan Kapolri dan dua...