Nasional

AS dan Iran Sepakati Gencatan 60 Hari, Buka Peluang Stabilitas Global

Bagikan:
Ilustrasi bendera AS dan Iran dengan simbol perdamaian dan peta Selat Hormuz

Amerika Serikat dan Iran menandatangani kesepakatan damai sementara selama 60 hari yang bertujuan meredakan ketegangan geopolitik. Kesepakatan ini membuka kembali jalur perdagangan di Selat Hormuz, melonggarkan sejumlah sanksi ekonomi, dan memberikan akses terbatas terhadap aset Iran yang dibekukan.

Isi kesepakatan

Poin utama perjanjian mencakup pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz dan pengurangan sejumlah pembatasan ekonomi terhadap Iran. Selain itu, pemerintah AS memberi akses terbatas ke aset-aset Iran yang sebelumnya dibekukan sebagai bagian dari gencatan sementara.

Dampak terhadap stabilitas dan pasokan energi

Langkah ini dinilai memiliki potensi menstabilkan pasar energi global. Dengan Selat Hormuz kembali terbuka, aliran minyak dan gas dari kawasan Timur Tengah dapat berkurang risikonya, sehingga berpengaruh pada harga dan ketersediaan energi dunia.

Pandangan ahli dan tantangan pelaksanaan

Sekjen IKAL Strategic Centre, Dr. Surya Wiranto, menyambut langkah itu namun memperingatkan adanya berbagai tantangan dalam implementasi. Ia menilai inisiatif seperti ini sering muncul saat salah satu pihak berada di bawah tekanan yang besar.

"Yang menarik, kenyataannya bahwa Iran memiliki kedayaan tahan yang luar biasa, mempunyai cara-cara berpikir untuk perang ini. Luar biasa dengan asimetris yang perbedaan kekuatan ini, dia mampu mengeksplor ke minimalis kekuatannya itu untuk melawan,"

Surya juga mengingatkan pentingnya konsistensi pihak yang bersepakat, khususnya Amerika Serikat. Menurutnya, inkonsistensi dapat merusak kepercayaan yang baru terbangun dan menghambat kelanjutan dialog.

"Karena memang intensi dari Trump ini kan seperti itu, selalu tidak pernah menempati apa yang sudah diperjanjikan. Padahal proposal awal itu kan dari Trump, seharusnya dia menempati itu, kalau Iran kita perhatikan, sepanjang kesempatan itu dijaga, oke kok,"

Arah ke depan

Gencatan 60 hari ini dipandang sebagai masa uji yang krusial. Keberhasilan fase tersebut dapat membuka ruang untuk dialog lanjutan dan solusi jangka panjang, sementara kegagalan bisa memicu kembalinya ketegangan.

Untuk sekarang, komunitas internasional mengamati pelaksanaan kesepakatan dengan harapan bahwa langkah ini dapat menciptakan keseimbangan baru dalam dinamika geopolitik dan menjaga stabilitas kawasan Timur Tengah.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait