DPRD Malang Dorong Angkot Jadi Feeder Resmi Trans Jatim
MALANG – Ketua DPRD Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita, mendorong Pemerintah Kota Malang melibatkan angkutan kota (angkot) sebagai feeder resmi untuk layanan Trans Jatim. Pernyataan itu disampaikan Rabu (12/8/2026) dengan alasan integrasi diperlukan agar layanan transportasi publik menjangkau permukiman warga, bukan hanya jalan utama.
Dorongan integrasi angkot sebagai feeder
Amithya meminta Pemkot bergerak cepat menyiapkan skema angkutan pengumpan yang mendukung operasional Trans Jatim di wilayah Malang Raya. Menurutnya, angkot mampu menjangkau koridor sekunder yang tidak bisa dilalui bus besar, sehingga peran angkot harus diakui dan dimanfaatkan.
"Jangan sampai layanan Trans Jatim hanya efektif di jalan-jalan utama atau berhenti di jalan-jalan protokol. Kita ingin rangkaian transportasi publik ini berhasil," kata Amithya.
Alasan dan manfaat integrasi
Politisi PDI Perjuangan itu menilai integrasi angkot ke sistem feeder memberi dua manfaat utama. Pertama, memperluas akses masyarakat hingga ke permukiman yang selama ini sulit dijangkau bus besar. Kedua, menjaga keberlanjutan mata pencaharian sopir angkot yang berperan penting dalam mobilitas warga.
Amithya menegaskan bahwa solusi integrasi juga dapat mencegah tumpang tindih rute antar moda. Dalam skema terintegrasi, Trans Jatim melayani koridor utama, sementara angkot mengumpankan penumpang dari kawasan pemukiman ke titik layanan bus.
Langkah teknis yang diminta DPRD
DPRD Kota Malang meminta Dinas Perhubungan segera merampungkan kajian teknis sebagai dasar operasional. Permintaan itu mencakup pemetaan rute, penentuan titik henti, dan mekanisme pengelolaan armada yang adil bagi pengemudi angkot.
- Pemetaan rute pengumpan untuk menjangkau permukiman
- Penentuan titik henti yang terintegrasi dengan halte Trans Jatim
- Mekanisme pengelolaan armada dan pembagian peran sopir angkot
Dampak lalu lintas dan prospek ke depan
Amithya berharap sistem transportasi publik yang terintegrasi memberi alternatif nyaman bagi masyarakat sehingga penggunaan kendaraan pribadi berkurang. Pengurangan kendaraan pribadi di jalan utama diharapkan membantu menurunkan kepadatan lalu lintas di kawasan perkotaan.
Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara Pemkot Malang dan Pemprov Jawa Timur. Koordinasi itu dinilai penting agar kesiapan infrastruktur dan sistem feeder tidak tertinggal dari realisasi koridor baru Trans Jatim di Malang Raya.
Kesimpulan: Integrasi angkot sebagai feeder resmi dinilai strategis untuk membangun ekosistem transportasi publik yang saling terhubung hingga ke kawasan permukiman, sekaligus melindungi mata pencaharian pengemudi angkot dan mengurangi kepadatan lalu lintas.
Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.
Berita Terkait
32 Pramuka Banyuwangi Berangkat ke Jamnas ke-12 di Cibubur
32 Pramuka Penggalang Banyuwangi dilepas Bupati Ipuk untuk mengikuti Jamnas ke-12 di Cibubur pada 13–20 Febr...
Pramuka Lamongan Berangkat ke Jamnas 2026, Bawa Misi Ketahanan Pangan
Wakil Bupati Lamongan melepas 38 Pramuka ke Jamnas 2026, fokus pada karakter, inovasi, dan dukungan ketahana...
Ngawi Terima 3 Combine Harvester untuk Atasi Kekurangan Tenaga Panen
Tiga combine harvester diserahkan di Kwadungan, Ngawi, 11 Agustus 2026 untuk mempercepat panen dan mengatasi...
Bupati Trenggalek Hadiri HUT ke-116 Desa Bendoroto, Dorong Gotong Royong
Bupati Trenggalek M. Nur Arifin hadir pada HUT ke-116 Desa Bendoroto (11/8/2026) untuk menyapa warga, menamp...
Polikultur Rumput Laut-Bandeng di Gresik: DPRD Akan Replikasi di Duduksampeyan
Polikultur rumput laut-Gracilaria, bandeng, dan udang di Pangkahkulon dipuji DPRD Gresik; rencana replikasi...
32 Pramuka Banyuwangi Dilepas Menuju Jamnas ke-12 Cibubur
32 Pramuka penggalang asal Banyuwangi dilepas menuju Jamnas ke-12 di Cibubur, 13–20 Feb 2026; Bupati minta m...