Anak Berkebutuhan Khusus Didorong Masuk Pasar untuk Mandiri
Pendamping Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Shinta Maruarar Sirait, mendorong hasil karya anak berkebutuhan khusus mendapat akses pasar untuk membangun kepercayaan diri dan kemandirian. Pernyataan itu disampaikan pada pembukaan London School Beyond Academy (LSBA) di LSPR Transpark Bekasi, Sabtu, 15 Agustus 2026.
Dorongan akses pasar bagi karya anak berkebutuhan khusus
Shinta mengatakan anak-anak LSBA memiliki kemampuan menghasilkan berbagai produk. Ia menyebut pernah melihat langsung mereka membuat jaket, donat, dan produk lain yang layak jual.
Menurut Shinta, kesempatan memasarkan karya penting agar anak merasakan nilai ekonomis dari usahanya. Pengalaman itu juga dianggap krusial untuk meningkatkan kepercayaan diri.
“Saya suruh mereka berjualan. Mereka merasakan bahwa itu hasil karya mereka dan dibeli secara profesional,” ujar Shinta.
Pengalaman berjualan: dampak sosial dan kemandirian
Selain menjual, Shinta menyebut pengalaman itu mengajarkan anak berinteraksi langsung dengan masyarakat. Interaksi ini memberikan pembelajaran sosial yang berbeda dari sekadar proses produksi.
Ia juga pernah mengajak peserta LSBA mengikuti fashion show. Pada kegiatan itu, anak-anak tidak hanya beratraksi tetapi juga memperkenalkan dan menjual produk mereka.
Keterampilan yang dikembangkan dan peluang kolaborasi
Shinta menekankan pemberdayaan perlu disesuaikan dengan kemampuan masing-masing anak. Untuk itu, kerja sama lintas pihak dinilai penting agar peluang keterampilan lebih terbuka.
- Memasak
- Pelayanan
- Tata rias
- Keterampilan di bidang kecantikan
Jenis keterampilan tersebut dapat menjadi alternatif pekerjaan bagi anak dengan minat dan kemampuan berbeda. Pembelajaran vokasional dan akses pasar sama-sama dianggap bagian dari proses menuju kemandirian.
Respons Pendamping Menteri Sosial dan harapan ke depan
Pendamping Menteri Sosial, Fatma Saifullah Yusuf, menyambut baik hadirnya LSBA Bekasi. Ia menilai pendidikan khusus harus diikuti program pemberdayaan setelah pendidikan formal agar anak lebih mandiri dan diterima masyarakat.
Pembukaan LSBA Bekasi dipandang sebagai momentum memperkuat jalur pendidikan dan pemberdayaan. Dengan akses keterampilan dan pasar, diharapkan lebih banyak anak berkebutuhan khusus bisa berkarya secara mandiri.
Langkah-langkah seperti pelatihan vokasional, pameran produk, dan kolaborasi dengan pelaku usaha akan menentukan sejauh mana hasil karya anak berkebutuhan khusus bisa bernilai ekonomi dan sosial.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Wapres Kukuhkan 76 Anggota Paskibraka untuk HUT ke-81 RI
Wapres Gibran mengukuhkan 76 calon Paskibraka pada 15 Agustus 2026 untuk bertugas pada pengibaran bendera HU...
Gempa Magnitudo 7,7 Guncang NTT: 38 Tewas, Ribuan Mengungsi
Gempa magnitudo 7,7 di NTT pada 15 Agustus 2026 menewaskan 38 orang; ribuan mengungsi dan fasilitas publik t...
Polri Perkuat Penanganan Gempa Flores, Evakuasi Jadi Prioritas
Polri perkuat penanganan gempa Flores 15 Agustus 2026; evakuasi, SAR Brimob, dan bantuan logistik dipriorita...
Polri Perkuat Penanganan Gempa Flores, Utamakan Keselamatan
Polri mengerahkan personel dan logistik untuk evakuasi dan penanganan pascagempa magnitudo 7,7 di Flores, 15...
Puan: Kebutuhan Warga Terdampak Gempa NTT Harus Segera Dipenuhi
Puan Maharani minta pemerintah segera penuhi kebutuhan korban gempa M7 di Mbay, Nagekeo, dan percepat pendat...
BNPB: 31 Gempa Susulan, 4 Berkekuatan di Atas Magnitudo 5 di NTT
BNPB mencatat 31 gempa susulan pascagempa Magnitudo 7,7 di NTT; empat di antaranya berkekuatan 5,5–6,2 serta...