Teknologi

AI Percepat Transformasi Pertambangan Indonesia di Konferensi 2026

Bagikan:

Jakarta. Para pemimpin industri menyatakan artificial intelligence (AI) siap memperkuat daya saing sektor pertambangan Indonesia. Pernyataan itu disampaikan pada Indonesia-China Coal & Energy Conference 2026, di mana eksekutif Huawei dan Yunding Technology menilai AI dapat meningkatkan produktivitas, memperkuat keselamatan kerja, memangkas biaya operasi, dan mendukung transisi menuju operasi yang lebih berkelanjutan.

AI untuk produktivitas, keselamatan, dan efisiensi biaya

Menurut pembicara, adopsi AI memungkinkan pengambilan keputusan berbasis data secara real time. Hal ini dinilai penting karena perusahaan tambang menghadapi tekanan biaya, standar lingkungan yang semakin ketat, dan tuntutan keselamatan yang meningkat.

Andy Wu, Presiden Mining Business Unit Huawei, menekankan bahwa teknologi matang kini bisa membantu menekan biaya operasi.

"AI bergantung pada data. Banyak perusahaan tambang sudah memiliki lebih dari 10 tahun data operasional. Itu menjadi dasar untuk mengembangkan solusi AI yang meningkatkan efisiensi sekaligus membantu mengelola risiko operasional."

Wu menambahkan bahwa AI juga dapat mempercepat deteksi kondisi berbahaya dan mendukung respons yang lebih cepat untuk keselamatan pekerja.

Data operasi: modal utama adopsi AI

Delegasi konferensi menyebutkan bahwa salah satu keunggulan Indonesia adalah akumulasi data operasional yang besar dari kegiatan pertambangan selama bertahun-tahun. Data ini menjadi bahan bakar untuk model AI yang mampu mengoptimalkan proses produksi dan pemeliharaan peralatan.

Dengan fondasi data yang kuat, pengembangan aplikasi AI seperti prediksi kegagalan peralatan dan optimasi rantai pasok menjadi lebih realistis dan berdampak cepat.

Tiga area manfaat AI menurut Yunding

Liu Bo, Presiden Yunding Technology, merinci tiga manfaat utama AI bagi industri tambang:

  • Meningkatkan keselamatan pekerja lewat pemantauan cerdas personel, peralatan, dan lingkungan operasi.
  • Optimasi proses produksi untuk menaikkan efisiensi dan menurunkan biaya.
  • Memperkuat kepatuhan terhadap standar keselamatan dan regulasi pemerintah.

"Pertambangan cerdas merepresentasikan masa depan pertambangan hijau."

Kolaborasi, talenta, dan kepatuhan data

Keduanya sepakat bahwa inovasi teknologi tidak cukup jika berdiri sendiri. Diperlukan kerja sama lintas pemangku kepentingan, termasuk perusahaan tambang, penyedia teknologi, universitas, pemerintah, asosiasi industri, dan mitra lokal.

Huawei menyatakan akan memperluas program pelatihan AI untuk mahasiswa, insinyur, dan profesional industri serta memperkuat kemitraan dengan universitas di Indonesia. Sementara itu, Yunding menegaskan komitmen untuk mematuhi regulasi lokal terkait penyimpanan, pemrosesan, dan tata kelola data serta mengutamakan kolaborasi dengan perusahaan dan pemasok domestik.

Kesimpulan: Adopsi AI dipandang sebagai langkah strategis untuk meningkatkan daya saing dan keberlanjutan sektor pertambangan Indonesia. Namun, transformasi ini membutuhkan data berkualitas, investasi pada talenta, serta sinergi antara pelaku industri dan regulator agar manfaatnya maksimal dan sesuai dengan kebijakan lokal.

Naufal Hakim
Penulis
Naufal Hakim

Editor teknologi yang mengulas gadget, kecerdasan buatan, startup, dan inovasi digital.

Berita Terkait