Teknologi

Era AI dan Nilai Kreativitas Manusia di Industri Kreatif

Bagikan:
Panel diskusi The Cornerstone tentang AI dan kreativitas manusia

Panel "The AI Paradox in the Creative Industry" pada konferensi nasional The Cornerstone menghadirkan CEO Trinity Optima Production Yonathan Nugroho, CEO Visinema Angga Dwimas Sasongko, dan pelajar Naomi Aisha Putri untuk membahas dampak AI terhadap industri kreatif dan nilai karya manusia.

AI mengubah proses kreatif, bukan menggantikan nilai manusia

Diskusi ini menyoroti bagaimana kecerdasan buatan mempercepat produksi konten dan membantu pengambilan keputusan. Para pembicara menegaskan bahwa kemudahan yang diberikan AI tidak otomatis menghapus peran kreativitas dan emosi manusia.

Menurut peserta panel, saat mesin mampu menghasilkan konten instan, justru emosi, pengalaman, dan orisinalitas menjadi pembeda utama yang membuat karya manusia tetap bernilai.

Perspektif pelajar: AI sebagai alat, bukan pengganti

Naomi Aisha Putri, siswi SMA Labschool Kebayoran, mewakili pandangan generasi muda yang sudah akrab dengan AI dalam kehidupan sehari-hari. Ia melihat AI banyak membantu tugas akademis dan proses kreatif, tetapi menekankan batas penggunaan.

"AI sebaiknya kita jadikan tantangan untuk memacu diri membuat karya yang jauh lebih baik dari hasil buatan mesin. AI adalah alat bantu, bukan pengganti proses kreatif kita,"

Naomi menambahkan bahwa kemampuan berpikir kritis dan keberanian menjaga orisinalitas akan semakin penting untuk pelajar yang bercita-cita berkarya di industri kreatif.

Sudut pandang pelaku industri: produktivitas versus koneksi emosional

Angga Dwimas Sasongko menilai AI sangat berguna untuk membaca pola audiens, menemukan blind spot naskah, dan mempercepat evaluasi konten. Namun, ia mengingatkan bahwa orisinalitas karya manusia akan kian bernilai ketika konten berbasis AI semakin melimpah.

Ia mengibaratkan konten AI massal sebagai fast food, sementara karya yang lahir dari pengalaman dan craftsmanship manusia terasa seperti fine dining bagi audiens.

Yonathan Nugroho menambahkan bahwa di industri musik, AI membantu analisis tren dan aransemen. Meski demikian, ia menegaskan bahwa musik membutuhkan emosi dan intuisi manusia yang sulit ditiru mesin.

Regulasi hak cipta dan langkah platform

Para pembicara juga menyoroti lambatnya regulasi hak cipta menghadapi perkembangan AI. Yonathan menyebut beberapa platform streaming sudah mengambil langkah menurunkan lagu yang dicurigai sepenuhnya dibuat oleh AI.

Mereka sepakat regulasi perlu dipercepat agar perlindungan kreativitas manusia lebih jelas di era teknologi ini.

Peran pendidikan dan aksi sosial

Diskusi ini merupakan bagian visi EduALL untuk membentuk generasi pembawa perubahan yang tak hanya unggul akademis, tetapi juga mampu menjaga identitas kreatif di tengah transformasi teknologi.

"Melalui dialog ini, kita melihat bahwa di era AI, aspek empati, perspektif, dan estetika manusia justru menjadi aset yang paling mahal. EduALL berkomitmen membekali pelajar agar mereka tidak sekadar menggunakan AI, tapi mampu mengarahkan teknologi tersebut tanpa kehilangan identitas kreatifnya,"

Sebagai bagian dari tanggung jawab sosial, The Cornerstone menyalurkan 100 persen hasil penjualan tiket untuk program pemerataan pendidikan bekerja sama dengan Indonesia Mengajar.

Kesimpulannya, pembicara menegaskan generasi muda tak perlu takut terhadap AI. Sebaliknya, mereka harus memahami dan memanfaatkan teknologi ini dengan bijak, sehingga manusia tetap mengendalikan proses kreatif dan menjaga sisi kemanusiaan sebagai nilai utama karya seni.

J
Penulis
John Doe

No bio yet 😊

Berita Terkait