Teknologi

Adopsi AI di Indonesia: Dari FOMO ke Fokus Nilai Bisnis

Bagikan:

Jakarta. Salesforce ASEAN Senior Vice President Paul Carvouni menyatakan bahwa rasa takut ketinggalan (FOMO) terhadap kecerdasan buatan mulai hilang karena perusahaan menuntut hasil bisnis yang terukur sebelum menambah investasi.

Peralihan ini terjadi sepanjang tahun terakhir, saat perusahaan bergerak dari eksperimen ke penerapan yang memberikan dampak nyata pada produktivitas, pendapatan, dan biaya.

Peralihan dari FOMO ke Nilai Bisnis

Carvouni mengingat gelombang adopsi generative AI pada 2022–2023 yang banyak dipicu oleh FOMO. Banyak proyek pilot terjebak dalam apa yang ia sebut "pilot purgatory", namun kini fokus beralih ke realisasi nilai bisnis.

"We're moving away from that experimentation phase into real concrete business value and value realization," kata Carvouni.

Data Penggunaan AI di Indonesia

Beberapa survei menunjukkan tingkat adopsi dan manfaat AI di Indonesia, namun penggunaan intensif masih terbatas.

IndikatorAngka
Pekerja Indonesia yang menggunakan AI (12 bulan terakhir)69% (vs 54% global)
Pengguna GenAI harian di Indonesia16%
Pengguna GenAI harian yang melaporkan produktivitas meningkat96% (banding 75% pengguna tidak rutin)
SMB Indonesia yang menggunakan/eksperimen AI (2024)77%
SMB yang percaya AI dapat meningkatkan pendapatan97%
SMB yang khawatir tertinggal tanpa AI41%
Kebutuhan talenta digital Indonesia pada 2030 (perkiraan pemerintah)~12 juta (vs ~3 juta saat ini)

Dampak pada Perusahaan: Contoh Nyata

Carvouni menekankan perusahaan kini menuntut bukti bahwa AI memengaruhi laporan laba-rugi (P&L) sebelum menambah investasi. Ia memberikan contoh implementasi yang berhasil.

Di Indonesia, perusahaan asuransi kesehatan Mandiri InHealth menggunakan layanan Salesforce Agentforce yang mengurangi waktu pemrosesan surat jaminan sekitar 46% dalam tiga bulan pertama dan mempercepat respons chat sekitar 30%.

Di Filipina, sebuah perusahaan asuransi memangkas waktu pemrosesan surat otorisasi dari sekitar 20 menit menjadi 30 detik, untuk 20.000–40.000 permintaan per bulan.

"CEOs, CMOs... mereka ingin tahu bagaimana AI memengaruhi P&L sebelum berinvestasi," ujar Carvouni.

Tantangan: Talenta, Tata Kelola, dan Adopsi Berkelanjutan

Carvouni menilai adopsi AI yang sukses membutuhkan kombinasi teknologi, orang, proses, dan adopsi yang berkelanjutan. Model bahasa besar memberi "kecerdasan mentah", namun bisnis perlu memberikan konteks dan menghubungkan AI ke data serta alur kerja mereka.

Keamanan, tata kelola, dan langkah pengaman juga menjadi kunci. Pemerintah menekankan pengembangan talenta; percepatan reskilling dipandang krusial untuk mengisi kesenjangan keahlian.

Penutup: Mulai dari Hasil Bisnis

Meski FOMO masih ada di kalangan pelaku usaha kecil, pertanyaan utama kini adalah bagaimana membuat investasi AI memberikan hasil bisnis nyata. Carvouni memberi petunjuk sederhana:

"Start with the business outcome. It's not about tech for tech. It's about tech for business outcomes or government outcomes."

Indonesia berpeluang menjadi pemimpin AI regional bila mampu menggabungkan infrastruktur, tata kelola, teknologi terpercaya, dan skala program reskilling tenaga kerja.

Naufal Hakim
Penulis
Naufal Hakim

Editor teknologi yang mengulas gadget, kecerdasan buatan, startup, dan inovasi digital.

Berita Terkait