Teknologi

RSCM Implan LVAD Terkecil Dunia CoreHeart 6 di Asia

Bagikan:

Jakarta, 1 Agustus. Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) berhasil mengimplan Left Ventricular Assist Device (LVAD) paling kecil di dunia, CoreHeart 6, dalam prosedur yang diklaim sebagai yang pertama di Asia. Prosedur ini merupakan terobosan dalam perawatan pasien gagal jantung lanjut di Indonesia, menawarkan opsi terapi bagi pasien yang kesulitan mendapatkan donor jantung.

Prosedur dan kondisi pasien

Operasi dilakukan pada 1 Agustus di RSCM Jakarta. Penerima adalah perempuan usia 45 tahun yang mengalami gagal jantung lanjut dengan fraksi ejeksi ventrikel kiri hanya 14%. Pasien sering sesak saat aktivitas ringan dan sempat dirawat berkali-kali karena gagal jantung.

Tim medis melaporkan perkembangan awal yang menggembirakan. Dalam sekitar 24 jam pascaoperasi pasien telah dilepas dari ventilator, memulai latihan rehabilitasi, dan menunjukkan perbaikan beberapa indikator klinis. Tim tetap memantau risiko komplikasi pascaoperasi seperti infeksi, perdarahan, dan disfungsi organ.

"So far the patient's condition continues to improve. Once we were able to remove the ventilator after the critical phase, we felt a great sense of relief. This is an important milestone for advanced heart failure care in Indonesia," Birry said.

Kolaborasi tim dan persiapan

Keberhasilan ini menurut Kepala Departemen Kardiovaskular RSCM, Birry Karim, merupakan buah dari persiapan bertahun-tahun dan kolaborasi lintas disiplin. Sejak 2017, RSCM mengembangkan program gagal jantung lanjut yang mengintegrasikan kardiolog, bedah jantung, anestesiologi, dan perawatan intensif.

"The success belongs to the entire team. Treating advanced heart failure requires close collaboration across multiple medical disciplines," Birry said.

Makna klinis dan dukungan kebijakan

Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan, Azhar Jaya, menilai teknologi LVAD memberi alternatif nyata saat ketersediaan donor dan tenaga spesialis transplantasi terbatas. Ia menekankan pentingnya transfer keahlian agar teknologi ini dapat menjangkau lebih banyak pasien di berbagai rumah sakit.

"For years, heart transplantation has been the primary treatment for end-stage heart failure. But donor shortages and the limited number of specialized surgeons have made the procedure difficult. LVAD technology offers new hope by extending patients' lives while improving their quality of life," Azhar said.

Peran mitra internasional dan teknologi masa depan

Prosedur ini difasilitasi melalui kerja sama dengan HeartSpan.ai dan mitra internasional lain, mencakup donasi perangkat, pelatihan dokter, transfer teknologi, dan pengembangan sistem klinis berbasis AI. Menurut pihak penyedia, CoreHeart 6 telah diimplan pada lebih dari 1.500 pasien di China, dan pada beberapa kasus perangkat dilepas setelah 2–3 tahun karena fungsi jantung pulih.

"This is not just about implanting a device. It is about building a sustainable heart failure ecosystem through training, innovation and international collaboration," Dr. Wei Siang Yu said.

HeartSpan.ai juga sedang mengembangkan versi LVAD yang dapat diberi daya secara nirkabel dan diperkirakan tersedia tahun depan. Teknologi nirkabel ini berpotensi menurunkan risiko infeksi yang berkaitan dengan kabel daya eksternal.

Implikasi ke depan

Keberhasilan implantasi CoreHeart 6 di RSCM membuka peluang perluasan layanan LVAD di Indonesia. Konsolidasi pelatihan, protokol perawatan pascaoperasi, dan dukungan kebijakan akan menentukan seberapa cepat teknologi ini dapat diadopsi secara luas untuk memperpanjang dan meningkatkan kualitas hidup pasien gagal jantung lanjut.

Naufal Hakim
Penulis
Naufal Hakim

Editor teknologi yang mengulas gadget, kecerdasan buatan, startup, dan inovasi digital.

Berita Terkait