Nasional

Abu Anak Krakatau Capai Jakarta, Waspadai 4 Bahaya Kesehatan

Bagikan:
Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau menyebar hingga langit Jakarta

Abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau dilaporkan mencapai sebagian wilayah Jakarta setelah erupsi yang berlangsung sejak Jumat, 4 Agustus 2026. Sebaran abu ini meningkatkan risiko gangguan kesehatan pernapasan, mata, dan kulit karena partikel halus dapat terbawa angin dan masuk ke lingkungan permukiman.

Empat risiko kesehatan utama

  1. Gangguan pernapasan
    Partikel halus abu dapat memicu batuk, sakit tenggorokan, sesak napas, pilek, dan mengi. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta penderita PPOK dan asma berisiko lebih tinggi. Paparan berkepanjangan dapat meningkatkan kemungkinan infeksi saluran pernapasan atas maupun bawah.
  2. Iritasi dan luka pada mata
    Abu vulkanik yang bersifat abrasif dapat menyebabkan iritasi mata hingga konjungtivitis. Masuknya partikel dapat menimbulkan kemerahan, rasa gatal, mata berair, dan sensasi seperti ada benda asing. Gesekan partikel ke kornea berisiko menyebabkan abrasi yang bisa menimbulkan kerusakan permanen jika tidak ditangani.
  3. Iritasi kulit
    Kandungan kimia dalam abu dan sifatnya yang abrasif dapat memicu gatal, kemerahan, bengkak, dan ruam. Tingkat iritasi bergantung pada komposisi abu dan lamanya paparan. Menggosok kulit yang terkena dapat memperburuk iritasi.
  4. Risiko jangka panjang: silikosis
    Paparan berulang terhadap debu yang mengandung silika dapat menyebabkan silikosis, yakni jaringan parut pada paru-paru. Kondisi ini menimbulkan batuk kronis, sesak napas, nyeri dada, dan penurunan berat badan.

Tanda dan gejala yang perlu diwaspadai

Perhatikan munculnya batuk berkepanjangan, mengi, atau sesak napas. Pada area mata, waspadai kemerahan, nyeri, atau penglihatan terganggu. Jika kulit terasa perih, membengkak, atau muncul ruam, segera lakukan pembersihan dan pantau perkembangan gejala.

Langkah perlindungan yang direkomendasikan

Untuk mengurangi paparan, ikuti langkah-langkah berikut:

  • Tetap berada di dalam ruangan dan tutup pintu, jendela, serta ventilasi agar partikel halus tidak masuk.
  • Gunakan masker N95 atau masker medis untuk melindungi saluran pernapasan.
  • Kenakan kacamata pelindung dan hindari penggunaan lensa kontak selama abu masih beterbangan.
  • Basahi abu sebelum dibersihkan agar partikel tidak kembali terangkat ke udara.
  • Segera bersihkan kulit yang terkena tanpa menggosok berlebihan; bilas mata dengan air bersih jika terpapar.

Kapan perlu mencari pertolongan medis

Jika muncul gejala pernapasan berat, gangguan penglihatan, nyeri mata, atau reaksi kulit yang meluas, segera cari layanan kesehatan. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan terutama bila gejala tidak membaik atau terus berulang, karena paparan jangka panjang dapat menimbulkan dampak serius pada paru-paru.

Pantau informasi resmi dan peringatan dari otoritas setempat. Langkah pencegahan sederhana dapat mengurangi risiko kesehatan akibat abu vulkanik selama periode penyebaran.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait